Posted: 13/04/2011 in teknik sipil
Tag:,

METODE PELAKSANAAN PROYEK

Bab I – Pendahuluan

Metode Pelaksanaan Proyek yang selanjutnya disebut MPP, merupakan rangkuman dari pengalaman-pengalaman tentang bagaimana cara pelaksanaan pekerjaan di proyek, khususnya bangunan gedung.

Isi dalam MPP ini memberi gambaran bagaimana seharusnya seorang pelaksana akan menjalankan pekerjaan di lapangan. Dimana diharapkan pelaksana lapangan memiliki wawasan dan cara pelaksanaan di proyek yang menjadi standart PT. Sekawan Triasa .

MPP ini bukan merupakan metode pelaksanaan terbaik, tetapi merupakan metode standart selama tidak ada ketentuan yang ditentukan oleh suatu proyek (Spesifikasi Teknis).

Untuk mempermudah penyajian, dalam MPP ini akan dibagi menjadi 5 bagian pembahasan yaitu :

Bagian pertama merupakan pekerjaan persiapan yang diuraikan dalam BAB II, Disini akan ditemukan bagaimana standart pembuatan Bouwplank, pagar proyek, direksi keet dan macam-macam pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaan persiapan proyek.

Bagian kedua akan diuraikan tentang metode pelaksanaan pekerjaan struktur yang terdiri dari pekerjaan beton, pekerjaan baja, pekerjaan kayu, pekerjaan batu, pekerjaan penutup atap, pekerjaan KM/WC, pekerjaan tanah dan pekerjaan pondasi. Pembahasan diatas akan diuraikan dalam BAB III sampai dengan BAB IX

Bagian ketiga merupakan uraian pekerjaan finishing

Bagian ke empat akan diuraikan pekerjaan MEKANIKAL dan ELEKTRIKAL terhadap SIPIL

Bagian ke lima merupakan bagian terakhir yang akan diuraikan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan sub-sub kontraktor

Team penyusun menyadari bahwa Metoda Pelaksanaan Proyek yang diterbitkan

pertama ini jauh dari sempurna, untuk itu pengembangan atau penyempurnaan blog ini masih akan terus berkembang dan diharapkan masukan-masukan dari semua pihak dan akan ditinjau setiap semester.

 

 

BAB II PEKERJAAN PERSIAPAN

Pekerjaan Persiapan dalam hal ini meliputi :
1. Bouwplank Standart
2. Pagar Proyek Standart
3. Direksi Keet (diseragamkan), kecuali ada spek di RKS
4. Keet Pelaksana
5. Gudang Logistik & Peralatan.
6. Kotak Takaran PC 50 kg & PC 40 kg.

II.1. BOUWPLANK STANDART.

Pembuatan Bouwplank dibagi menjadi 2 sistem :
1. Sistem bouwplank setempat : untuk kondisi dimana antar as jaraknya
berjauhan.
2. Sistem Bouwplank menerus : untuk kondisi tanah yang konturnya/peilnya sama.

Pada umumnya pemasangan Bouwplank diambil + 0.50 dari peil 0.00. Untuk pema-
sangan titik mati (BM) juga diambil + 0.50 dengan jumlah patok minimal 2 titik mati.
Pengambilan titik mati (BM) harus ditempat yang tidak mudah diganggu, dan bahan yang
digunakan dari pralon ø 4″ dan dicor.
Bahan yang digunakan untuk bouwplank adalah:
– Papan kalimantan ( yang diserut bagian atasnya) ukuran 2 x 20
– Usuk Kayu kalimantan ukuran 5/7.
Tiang Bouwplank dipasang sebanyak 4 tiang untuk setiap Bouwplank, serta ditanam ke
dalam tanah maksimal sedalam 1,00 m.
Jarak Bouwplank dari sisi luar galian = 2 m, karena bisa menyesuaikan lebar galian.

Gambar Bouwplank Standart terlampir ( Gambar II.1. )

II.2. PAGAR PROYEK STANDART

Pembuatan Pagar Proyek Standart, bahan yang digunakan adalah :
1. Usuk 5/7 (Usuk kayu kalimantan)
2. Seng BJLS 20
3. Paku seng.
Untuk ketinggian pagar adalah 1.80 m dengan jarak tiang pagar per 2.00 m diberi
stut dan usuk pada bagian atas dan bawah pagar.
Pemasangan tiang dengan ditanam langsung, kedalaman pemasangan tiang disesuai-
kan kondisi tanah setempat. Tiang diberi teer atau meni.
Seng dicat dengan menggunakan cat meni warna abu-abu pada bagian luar seng dan
ada papan nama tersendiri PT. Sekawan Triasa (ST).

Gambar Pagar Proyek Standart terlampir ( Gambar II.2. )

II.3. DIREKSI KEET

Untuk Direksi Keet biasanya dibuat 2 ruang yaitu :
1. Ruang Direksi ukuran 4 x 4 m
2. Ruang Rapat ukuran 4 x 8 m

Sebagai rangka dan atap bangunan digunakan usuk Kalimantan 5/7 dan multiplex
4 mm sebagai partisinya. Untuk penutup atapnya digunakan seng gelombang.
Ruangan diberi ventilasi yang cukup, jendela dari kaca krepyak bening.
Lantai ruangan dibuat dari floor, baik untuk ruang direksi, ruang rapat maupun KM/WC
Selain itu disediakan KM/WC ukuran 1,5 x 1,5 m sebanyak 1 buah. Dengan spesifikasi
Closet Jongkok dan bak dari beton.
Gambar Direksi Keet terlampir ( Gambar II.3. )

II.4. KEET PELAKSANA

Untuk Keet Pelaksana ukuran yang digunakan adalah 4 x 12 m atau menggunakan
rangka atap yang ada, yaitu : 2 trafe.
Sebagai rangka bangunan digunakan usuk kayu Kalimantan 5/7 dan sebagai partisinya
dipakai multiplex 4 mm. Sedangkan sebagai penutup atapnya dipakai seng gelombang
dan lantai di floor.
Untuk pelaksana juga disediakan KM/WC ukuran 1,5 x 1,5 sebanyak 1 bh, yaitu bak dari
beton dan closet jongkok.
Keet Pelaksana dibagi menjadi beberapa ruang, yaitu :
– Ruang Koordinator
– Ruang Pelaksana
– Ruang Komputer dan Ruang Administrasi.
Pembagian Ruang-ruang tersebut dibuat dari panel-panel setinggi 1/2 badan.
Untuk ruang Koordinator disediakan dua meja, yaitu 1 bh meja untuk Koordinator Proyek
dan 1 bh meja untuk Project Manager serta disediakan meja kursi untuk tamu.

Gambar design Keet Pelaksana terlampir ( Gambar II.4. )

II.5. GUDANG LOGISTIK & PERALATAN

Untuk Gudang Logistik & Peralatan baik ukuran maupun spesifikasi bahan yang di-
gunakan sama dengan Keet Pelaksana.
Khusus untuk ruang peralatan dinding dibuat yang paten yang didalam
Gambar design Gudang Logistik & Peralatan terlampir ( Gambar II.5. )

II.6. KOTAK TAKARAN PC 50 KG & 40 KG

Untuk kotak takaran dibuat sesuai dengan penggunaan di lapangan yaitu :
Untuk pasir, split dan semen. Bahan digunakan papan kayu Meranti 2 x 20 dan usuk
kayu Kalimantan 5/7 cm. Kotak Takaran dibuat permanen dan dicat dengan cat kayu
supaya seragam.
Ukuran Kotak Takaran 40 cm x 30 cm x 20 cm untuk 1/2 zak PC 50 kg.
Untuk satu proyek dibuat 6 kotak takaran.
Gambar Design Terlampir ( Gambar II.6. )

 

 

BAB III KONSTRUKSI BETON

BAB III
KONSTRUKSI BETON

1. PERSIAPAN
Mengingat pentingnya pekerjaan beton maka untuk mendapatkan mutu beton
yang diinginkan sesuai spec dan mendapatkan hasil yang memuaskan kita perlu mem-
perhatikan hal-hal seperti dibawah ini :
1.1. Mix Design ( merencanakan campuran beton )
Mix Design sebaiknya dilakukan minimum 10 hari sebelum pengecoran.
Umumnya untuk mempermudah pekerjaan di lapangan, mix design dilaksanakan berda -
sarkan data-data yang ada , contoh 1 : 2 : 3 ; 1 : 1 1/2 : 2 1/2, yang sesuai dengan
kondisi setempat, atau untuk lebih akurat bisa dilakukan perhitungan berdasarkan
SK SNI T-15-1990-03 tentang Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal.
Setelah didapat proporsi dari masing-masing material maka diadakan Trial mix
(percobaan campuran), sesuai dengan proporsi yang ditetapkan misalnya 1pc :2ps:3kr
kemudian masing-masing hasil Trial Mix kita periksakan ke laboratorium untuk menge -
tahui mutu beton.
1.2. Pembuatan dan Perawatan Benda uji
Cetakan benda uji yang kita pakai ukuran 150 x150 x 150 atau silinder ø 150 dan tinggi
300 terbuat dari baja. Cara pengambilan sample dilakukan sbb :
– Beton dimasukkan dalam cetakan, dibagi dalam 3 lapisan yang kira-kira sama tinggi -
nya, setiap lapisan dipadatkan dengan cara menusuk-nusuk dengan alat dari baja
( D 16 mm besi polos ) ± 25 kali , tempat / cetakan diketok-ketok.
– Selama 24 jam, contoh beton harus dilindungi dari penguapan yang terlalu cepat.
Cetakan dibuka setelah 24 jam (minimum).
– Sebelum di test contoh harus direndam dalam air selama 3-5 hari.
– Silinder Beton yang akan di test dikeringkan secukupnya dan kedua permukaannya
diberi sulfur compounds setebal 1/8 – 1/6 inch. Pemberian lapisan (capping) dimaksud-
kan agar diperoleh permukaan yang rata dan tegak lurus terhadap sumbu.
– Beton secepatnya ditest kekuatan tekannya.
1.3. Pemeriksaan mutu di lapangan
Pemeriksaan mutu beton di lapangan sebelum dituangkan, cara yang paling praktis di -
lakukan dengan Slump Test, dengan alat Kerucut Abram, secara singkat caranya sbb :
– Masukkan beton kedalam Kerucut Abram, setiap 1/3 bagian beton dipadatkan dengan
penusuk dari baja sebanyak ± 25 kali, kemudian dilanjutkan dg 1/3 bagian yang lain.
– Setelah penuh dan rata kerucut ditarik vertikal keatas perlahan-lahan.
– Ukurlah tinggi beton yang turun terhadap Kerucut Abrams, turunnya tinggi beton itu
adalah tinggi Slump beton.

Zero Normal Shear Collapse
– F.a.s rendah – komposisi Agregat baik – komposisi agregat jelek – komposisi jelek
– bentuk standard. – terlalu banyak pasir. – F.a.s. tinggi

Nilai Slump untuk pengecoran pelat, balok, kolom yang baik berkisar 10 ± 2. Semakin
tinggi nilai slump akan menyebabkan Faktor air semen tinggi, sehingga kekuatan tekan
beton akan semakin berkurang.

1.4. Pengujian Beton
Menurut SK-SNI idealnya benda uji yang ada minimum 30 benda uji dari pengecoran
yang berkesinambungan, tapi bila benda uji kurang dari 30, maka Standart Deviasinya
harus dikalikan dengan faktor seperti pada tabel 4.3.1.2 SK – SNI.
Rumus untuk analisa benda uji:
f’cr = f’c + 1,64 S
dimana :
f’cr = Kuat tekan beton rata-rata menurut Rumus S f’c1 /n
f’c = Kuat tekan beton yang direncanakan

S = S (f’c1 – f’cr)²
n – 1

n = Jumlah nilai hasil uji (1 hasil uji adalah rta-rata dari 2 benda uji)

Tingkat kekuatan dari suatu mutu beton dikatakan dicapai dengan memuaskan bila ke-
dua persyaratan berikut tercapai :
a. Nilai rata-rata dari 4 hasil uji, tidak kurang dari f’c +0,82 S
b. Tidak satupun hasil kurang dari 0,85 f’c.

1.5. Pengujian Besi
Pengujian besi dilaksanakan di dua tempat di lapangan dan di lab untuk pengujian besi
di lapangan, pengujian besi polos menggunakan sketsmatch, sedang untuk besi ulir /
Deform ditimbang berat per m kemudian dihitung dengan rumus 12,74 B
Toleransi D
D s/d 14 ± 0,4 mm Penyimpangan kebundaran
16 – 25 ± 0,5 mm max 70 % dari toleransi
28 – 34 ± 0,6 mm
36 – 50 ± 0,8 mm

Pengujian di laboratorium :
1. Ambil contoh minimal 1 1/2 m potong dari kedua ujung batang, tidak boleh dengan
cara pemasangan.
2. Setiap kelompok yang terdiri dari satu ukuran dan berasal dari satu produk diambil
diambil 1 contoh
3. Untuk kelompok yang beratnya lebih dari 5 ton, setiap kelipatan 5 ton diambil
1 contoh.
4. Contoh-contoh tersebut di ujikan pada lab-lab yang ditunjuk.
5. Hasilnya 5 % tidak boleh kurang dari s leleh baja.

2. PERANCAH
Yang perlu diperhitungkan dalam menggunakan tiang perancah adalah faktor tekuknya.
Jenis-jenis perancah yang ada di PT. Sekawan Triasa sbb :
1. Scafolding
2. Pipa hitam
3. Pipa putih
4. Pipa Support
5. Dolken atau usuk

2.1. SCAFOLDING
Penggunaan scafolding yang kaitannya dengan pekerjaan struktur biasanya
digunakan untuk menumpu begesting Balok & Plat Beton
Stock scaffolding yang ada di PT. ST terdiri dari Sbb:

1. MF 170, 150
2. LF 120, 90, 50
3. CB 220, 193, 183, 153, 138 Ukuran yang tertera merupakan
4. JP panjangnya
5. JB 40, 60
6. UHJ 40, 60
Penggunaan masing-masing tergantung dari kebutuhan, untuk lebih jelasnya lihat
gambar skets Gambar III.1. Untuk pedoman praktis di lapangan dapat dilihat pada tabel
pemakaian scafolding.

No Tinggi Muka Mf1 Mf2 LF JB UHJ JP1 JP1 4.00
bawah balok

1 500 170 170 120 40 40 2 2
2 480 170 170 90 40 40 2 2
3 460 170 150 90 40 40 2 2
4 440 170 150 50 60 40 2 2
5 420 170 150 50 40 40 2 2
6 410 170 150 50 40 40 2 2
7 400 170 150 – 60 40 2 2
8 390 170 150 – 60 40 2 2
9 380 170 150 – 40 40 2 2
10 370 170 150 – 40 40 2 2
11 360 170 – 120 60 40 2 2
12 350 170 – 120 40 40 2 2
13 340 150 150 – 40 40 2 2
14 330 150 – 120 40 40 2 2

2.2. Pipa Hitam
Digunakan untuk pengaku pada Main Frame sehingga lebih kaku terhadap faktor tekuk,
pemasangannya sebaiknya menyilang menghubungkan main frame atas dan bawah.
Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar sketsa.

pipa hitam

2.3. Pipa Putih
Dipakai sebagai andang bagian luar bangunan, digunakan untuk keperluan finishing luar
bangunan pada bangunan tingkat tinggi. Penghubung pipa putih arah vertikal digunakan
Joint Pin Pipa, sedangkan arah horisontal menggunakan clamp.
Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar sketsa
pipa putih
2.4. Pipa Support
Umumnya digunakan pada begesting kolom, digunakan sebagai penahan pada
begesting kolom sehingga begesting kolom benar-benar vertical dan tidak muntir.
Bisa juga digunakan untuk mensupport begesting balok diantara Main Frame apabila
dirasa tumpuannya kurang dan untuk lebih jelasnya lihat sketsa III.2.

2.5. Dolken
Penggunaan biasanya untuk tumpuan begesting balok dan plat pada bangunan berting-
kat rendah.
Dolken yang digunakan ber ø 6 cm panjang 4 m, jarak antar tumpuan ± 50 cm.
Pengaku antar dolken dipasang papan 2/20.
Lihat Gambar III.3.

3. BEGESTING

Begesting merupakan cetakan untuk beton, sehingga pelaksanaannya harus benar-
benar teliti dan terencana. Dari segi biaya , pelaksanaan begesting juga perlu diperhi -
tungkan karena biayanya cukup tinggi untuk itu begesting harus bisa digunakan beru -
lang-ulang. Sistem begesting pelat, balok, kolom, perlu dibuat standart yaitu dengan
systim panel, sehingga diharapkan bisa digunakan berulang-ulang.
Sistem panel adalah suatu systim begesting dimana setiap modul dari begesting diberi
rangka keliling dari usuk.
Khusus untuk begesting expose semua rangka penel harus diserut dulu atau pakai pa -
nel plywood. Sebelum besi dipasang semua permukaan begesting harus diberi mud oil.
Lihat Gambar III.4. dan III.2.
Daerah KM/WC begesting pelat & balok diturunkan 10 cm. Pada daerah atap yang ber-
hubungan langsung dengan air, begesting harus dibuat miring (ada kemiringan) sehing-
ga air bisa mengalir. Selain begesting tersebut, di ST juga ada begesting yang sudah
paten, yang bisa kita pergunakan, seperti pada tabel dibawah ini :

No Jenis Ukuran Jumlah Kegunaan

1 Rangka L 40.40.4 40 x 120 cm² 77
50 x 120 cm² 16 Gebkekan
60 x 120 cm² 35 begesting
70 x 120 cm² 46 kolom
80 x 120 cm² 33 persegi
90 x 120 cm² 220

2 Begesting bulat ø 60 20 begesting
ø 50 17 kolom
ø 30 2 bulat

3 Begesting sloof Pj. 580 cm 39 beg. sloof
rangka siku.

4 Besi beton ø 10 mm Pj. 95 cm 198 Klem
Pj. 80 cm 85 Begesting
kolom

Untuk mempermudah dalam pemesanan scafolding terlampir Tabel Jarak Tumpuan
Balok dan jumlah usuk 5/7 yang diperlukan ‘bodeman’ balok.

No. Luasan Balok Jumlah usuk Jarak Contoh Ukuran Cross Brace
pd bodeman Tumpuan

1 s/d 0,085 m² 2 150 20/30, 20/40, 20/35
2 0,086 s/d 0,127 m² 3 150 25/40, 25/50, 30/40 193
3 0,128 s/d 0,508 m² 3 75 40/60, 40/70, 60/80 183

1 s/d 0,059 m² 2 183 15/20, 15/25, 20/30
2 0,06 s/d 0,088 m² 3 183 20/35, 20/40 220
3 0,089 s/d 0,35 m² 3 91.5 30560, 40/70, 50/70

4. PEMBESIAN

Yang dimaksud dengan pembesian adalah pekerjaan perangkaian besi sedemikian
rupa sehingga sesuai dengan gambar rencana yang diinginkan. Pembesian bukanlah
pekerjaan yang mudah sebab bila kita tidak mengerti dasar-dasar pembesian lalu kita
laksanakan dengan tidak hati-hati akan berakibat fatal, mungkin bisa terjadi bongkar-
pasang bahkan yang paling extrim bisa menyebabkan keruntuhan. Untuk itu pembesian
perlu memperhatikan hal-hal seperti di bawah ini :

4. 1. Daftar Buistat.
Sebelum dimulai pekerjaan perangkaian kita harus punya dulu daftar buistat, dimana
didalamnya terdapat daftar pemotongan besi. Karena daftar Buistaat merupakan hal
yang penting untuk itu perlu di standarisasi.
Lihat contoh Tabel III.2.

Gambar / Bentuk Panj ø Berat Jml Pot Total Digunakan Jml pot Sisa Diguna Tot bahan
Potongan Besi (m) (mm) (Kg/m) (bh) Berat dr sisa (bh) pot untuk

4.2. Sambungan lewatan
– 30 – 40 d (untuk besi ulir) dan 35 – 40 d ( untuk besi polos)
– Sambungan tidak boleh dalam 1 baris harus 50% – 50%
– Bendrat untuk mengikat sambungan harus benar-benar kuat
4.3. Beugel (sengkang)
– kait / hak pada beugel harus dibuat 5 d
4.4. Overlapping (lihat gambar)
4.5. Pertemuan antar balok
– Balok portal / induk dimenangkan
– Balok anak masuk di dalam balok induk

4.6. Pertemuan balok portal (lihat gambar).

4.7. Beugel kolom pada pertemuan balok dan kolom sebaiknya dipasang.

5. PENGECORAN
Pengecoran bisa dilaksanakan dengan dua cara yaitu site mix dan ready mix.
Pengecoran Site mix campurannya harus mengikuti perhitungan mix design dan
pelaksanaanya harus menggunakan kotak takaran yang telah ditetapkan.
Untuk ready mix kita harus menempatkan orang pada Batching Plant untuk pengontrolan
loading sehingga akan mengurangi kesalahan dalam penakaran.

5.1. Pengecoran Balok dan Plat
Yang perlu diperhatikan sebelum pengecoran adalah sbb :
– pembersihan bekas-bekas kotoran dengan air atau compresor
– Kontrol elevasi begesting.
– Check semua begesting apakah ada yang lubang
– Beugel-beugel yang lepas dipasang kembali.
– Sparing Instalasi air bersih, kotor dan sebagainya dikontrol kembali, apakah telah
terpasang semua.
– Siapkan peralatan cor seperti garuk, sepatu cor, thriller & deklit
– Besi kolom harus dibuat as dulu dengan cara ditarik dengan trextang.
– Beugel kolom dipasang sepanjanmg 1/2 tinggi kolom.
Pada daerah KM/WC tepi luarnya diberi tanggulan setinggi 10 cm untuk pasangan
bata. Demikian pula untuk dinding luar diberi tanggulan setinggi 10 cm.

5.2. Pengecoran kolom
Tinggi jatuh disyaratkan 1,5 – 2 m, jadi bila ada kolom yang > 2 m pada begesting
sebaiknya diberi jendela. Untuk pengecoran pertama diberi spesi campuran :
1Pc : 2 Ps ± 5 ember untuk menghindarkan kropos pada bagian dasar. Sepatu
kolom mempergunakan campuran 1 pc : 2 ps : 3 kr.
Thriller diusahakan masuk sampai kedasar kolom, bagian luar tetap harus diberi
orang untuk ‘ketok-ketok’.
Bila besi terlalu banyak, thriller bisa diganti bambu dan ‘dijojoh’ dari atas.

5.3. Beton Decking
Menurut Sk-SNI tebal pentup beton :
a. Beton yang berhubungan dengan tanah d-19 keatas 5 cm, < d19 4 cm
b. Pelat 2 cm
c. Balok, kolom, 4 cm.

5.4. Penggetaran
Thriller diletakkan pada arah 60° – 90° yang akan dithriller kemudian pada waktu
penggetaran tidak boleh digetarkan pada besi tulangan terlalu lama karena meng
ganggu proses pengerasan, alat getar dipindahkan secara perlahan dan berpin-
dah-pindah.
Perlu diperhatikan jangan terlalu lama melakukan penggetaran pada satu tempat
akan menyebabkan sarang kerikil karena terjadi pemisahan agregat.

5.5. Pemberhentian Pengecoran
Diharapkan tidak ada pengecoran yang berhenti di tengah jalan tapi bila terpaksa
bisa dilakukan pemberhentian pengecoran pd 1/4 s/d 1/2 L bentang yang dicor.
Sebelum disambung bersihkan kerikil-kerikil yang lepas lalu siramkan air semen
dicampur dengan addibond, kemudian sambungan bisa dilaksanakan.

5.6. Finishing Cor
Setelah pengecoran selesai, harus ada orang khusus untuk meratakan permukaan
cor yaitu dengan cara digosok hingga padat.

Perlakuan khusus diberikan pada daerah km/wc, pada waktu proses penggosok-
an juga harus diberi plesteran 1 : 2 dan digosok lagi sampai halus sehingga diha-
rapkan lapisan semen bisa berfungsi sebagai waterproofing.
Selanjutnya diadakan uji coba dengan genangan air.

5.7. Pengecoran Lisplank
Pengecoran lisplang tidak diijinkan distek, tapi harus dicor bersamaan pada waktu
pengecoran balok / plat.

5.8. Perawatan Beton
Setelah selesai pengecoran selama 7 hari selalu dibasahi dengan air, untuk pe -
kerjaan yang sensitif bisa mencapai 14 hari.
Caranya : 1. Meggenangi dengan air pada konstruksi yang datar seperti plat
2. Memerciki air secara terus-menerus
3. Menutupi dengan karung goni basah

5.9. Perbaikan beton
Dalam bahasan ini hanya dibicarakan yang umum / yang sering terjadi
yaitu kropos dangkal dan sarang kerikil.
Caranya : 1. Kerusakan dibersihkan
2. Buat campuran air + semen ( kalau perlu ditambah Bocrete)

3. Oleskan air semen pada permukaan tersebut
4. Tambalkan camp 1 Pc : 2 psr pd permukaan tsb sampai pampat
Kalau kropos sampai dalam bisa di injeksi atau grouting.

5.10. Pembongkaran begesting balok dan plat
Begesting boleh dibongkar setelah beton mencapai kekuatan ± 70% dari kekuatan
rencana, jadi kira-kira 10 hari, pembongkarannyapun harus mulai dari tembereng
balok, pelat, baru kemudian balok.
Setelah begesting dibongkar, panel-panel tersebut disusun kembali berdasarkan
penggunaannya.

 

 

BAB IV KONSTRUKSI BAJA

BAB IV
KONSTRUKSI BAJA

Pekerjaan Baja ada 4 tahapan
I. Perencanaan dan Penggambaran
II. Fabrikasi
III. Erection
IV. Pasca Erection

IV.1. PERENCANAAN & PENGGAMBARAN

IV.1.1. Mekanisme perencanaan dan penggambaran konstruksi baja.

Dalam mekanisme diatas pada bagian yang dipisahkan oleh garis putus-putus ini adalah bila
dalam pelaksanaannya di kerjakan oleh sub kontraktor lain.
Dalam perencanaan konstruksi baja ini yang terpenting adalah selalu diadakan check and re-
check gambar baja dengan konsultan (bila ada) antara gambar baja dengan struktur atau de-
ngan arsitek/sipil.

IV.1.2. Pemahaman gambar baja.

Konsep pemahaman gambar-gambar Baja / Gambar Pelaksanaan sebelum masuk
bengkel :
1. Denah keseluruhan, ukuran -ukuran total bangunan, jarak dan dimensi
2. Detail-detail gambar ( yang terkait dengan tabel baja ):
* Sambungan
* Pengelasan
* Baut-baut
* Angkur-angkur / pengangkuran
* Profil : yang tersedia di pasaran
: sesuai dengan perhitungan

Dalam gambar detail baja untuk ukuran-ukuran yang biasanya tidak ditentukan seperti mi-
salnya pada kelekan kuda-kuda portal sebaiknya dipakai standarisasi ukuran yang biasa
dipakai, jadi tidak menggunakan skala.

IV.2. FABRIKASI :

Setelah gambar kerja telah di check dan recheck serta disetujui oleh Pimpinan Teknik untuk di
laksanakan maka pihak bengkel dapat segera melaksanakan fabrikasi di bengkel atau di site
dengan selalu diadakan pengawasan dan pengecekan oleh pelaksana.

Untuk pekerjaan baja yang terkait dengan gambar sipil seperti misalnya pengangkuran dan
stek-stek, agar dibuat terlebih dahulu untuk dapat segera dipasang.

IV.2.1. PENGANGKURAN

Fungsi : Pemegang Struktur atas ( Kolom / Kuda-kuda) pada posisi yang
yang sebenarnya / tepat.

b
kolom IWF a 2 a a
plat landas
l

h 2l

Angkur besi beton dimana : a = l >= 5 cm

Penempatan dan pemasangan angkur :
As-as kolom, cara menentukan adalah ;
* Buat Bouwplank setempat.
* Mal pengangkuran dari multiplex t = 9 mm dan diberi as
* Angkur dipasang di mal dan diberi 2 baut dan dipasang pada atas dan
bawah mal.
* Ditarik benang / as ditarik 2 arah sesuai mal membentuk 2 arah siku
* Angkur di las dengan besi beton kolom dengan elevasi atas waterpass.
* Begesting kolom dipasang.
* Kolom dicor
* Mal angkur dilepas

Untuk plat landas yang lebih tebal dari 16 mm sebaiknya tebal mal sesuai dengan
tebal plat atau angkur dicheck vertikalnya satu persatu.

Berdasarkan tumpuannya :
a. Tumpuan pada kolom pedestal
Fungsi : Jepit – sendi —-> harus sesuai dengan perhitungan struktur.
b. Tumpuan pada kolom atas.
Fungsi : Jepit – Jepit
Sendi – Sendi
Sendi – Rol

Pengangkuran baja dilaksanakan oleh Sipil di bawah Supervisi dari divisi baja, hal ini
dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bila terjadi masalah pada
saat erection oleh divisi baja.

IV. 2.2. PENGELASAN

Peralatan :
1. Generator / Genset
2. Onvomer/ Trafo las
3. Kabel las + dan -
4. Stang las (handle)
5. Topeng las
6. Kawat las

Kawat las yang biasa dipakai ada 3 jenis :
Diameter 2,6 mm untuk Pelat baja tipis, diameter 3,2 mm, dan 4,0 mm untuk plat baja yang
lebih tebal Selain itu type Kawat RD 460 dan RD 260, yang biasa dipakai adalah
type RD 460.
Energi / daya yang digunakan untuk pengelasan yang sempurna :
– Untuk kawat diameter 2,6 mm —–> 3.000 Watt – 8.000 Watt
– Untuk kawat diamater 3,2 dan 4,0 mm ——> 5.000 Watt – 12000 Watt
Dihindarkan adanya pengelasan pokok setelah kap baja terpasang terhadap bahaya
keruntuhan.

Yang sangat penting untuk hasil yang ingin kita capai dalam melas konstruksi baja, ialah
cara melas, dimana yang perlu diperhatikan adalah keserbasamaan (keseragaman) dan
rupa las, serta kematangan pengelasan.
Setelah pengelasan biasanya akan timbul kerak-kerak las ini harus dibersihkan dengan
cara diketok-ketok dengan palu (hammer).

IV.3. ERECTION

Persiapan dan peralatan :
1. Box
2. Tali tambang
3. Tali baja
4. Liyer
5. Takel
6. Peralatan Las
7. Blander
8. Kunci / Kunci momen
9. Alat Bantu (bbalok-balok kayu, dll)

Man Power untuk Erection :
Untuk Erection baja harus dipersiapkan tenaga kerja yang memadai. Tenaga kerja ini da-
pat dibagi menurut pekerjaannnya :
– Langsiran baja yang telah difabrikasi ditempatkan di lokasi menurut kode-kode yang ada.
– Tenaga penarik Liyer dan tali baja.
– Tenaga yang menempat baja pada posisi untuk dipasang baut-baut.
– Tenaga pemasangan tali baja / tali tambang
– Tenaga pengelasan, pasang gording dan pasang mur baut, serta supervisi.

Contoh Erection Kuda-kuda Portal dan Kolom IWF :
1. Schedule fabrikasi dan erection.
2. Perencanaan arah erection, penempatan bahan hasil fabrikasi, misalnya :
Untuk kuda-kuda / kap baja vakwerk sesuai dengan kode-kode yang terdapat pada
Shop drawing.
3. Erection kolom IWF dengan box pipa
4. Pemasangan Regel / koker antar kolom
5. Box besar dipasang pada kuda Kuda-kuda yang pertama
– Ketinggian box min 3 m dari puncak kuda-kuda
– Jumlah box tergantung dari bentang kuda-kuda < 23 m menggunakan
1 Box , ( L < 23 m = 1 Box, 23 < L < 46 = 2 Box )
Penarikan tambang/sling pada baja untuk kuda-kuda > 23.00 m pada 4 arah.
Untuk beban berat harus pakai sling baja.
6. Kuda-kuda dirangkai di bawah.
Pemeriksaan awal terhadap panjang dan hasil pengelasan.
7. Kuda-kuda pada bagian atas diikat dengan tali baja yang ditarik dengan Liyer.
(dicheck kekakuan horisontal awal apakah perlu pengaku tambahan ).
8. Samping kanan / kiri kuda-kuda diberi tali tambang untuk menjaga posisi agar tidak
terpuntir atau dipegang dengan box pipa.
9. Bentang kuda-kuda yang sudah dirangkai dichek bentangnya = bentang kolom
10. Kuda – kuda dibaut pada kolom.
11. Box Utama digeser pada posisi kuda-kuda kedua.
12. Selanjutnya kuda-kuda yang telah dirangkai dibawah dan telah dicheck panjang dan
pengelasan segera diangkat dan dipasang. (sesuai langkah 5 s/d 10).
13. Setelah 2 kuda-kuda terpasang, untuk membantu kekakuan segera dipasang gording
dan ikatan angin.
14. Untuk kuda-kuda ketiga dan seterusnya dengan langkah yang sama.
Untuk penumpukan bahan kap baja, beban bahan diperhitungkan terhadap kekuatan plat
atau balok beton.

Pada erection awal koordinator harus berada di lapangan untuk supervisi langsung.
Selama erection berlangsung, pelaksana lapangan harus mengikuti jalannya erection
serta berfungsi sebagai supervisi.

IV.4. PASCA ERECTION

1. Pemeriksaan tegaklurus (lot) dari kolom.
2. Pemeriksaan pemasangan baut / las (Check Total)
3. Semua sambungan dicheck
4. Pengecatan ulang meni besi
5. Periksa lendutan apakah sesuai dengan batas yang diberi oleh koordinator.
6. Pengerjaan grouting bawah base plate dengan semen grouting (bila ada)

 

 

BAB V
PEKERJAAN KAYU

V.1. MACAM-MACAM KAYU DAN PENGAWETANNYA

V.1.1. Macam-macam kayu yang biasa / lazim digunakan :

- Kayu Jati
– Kayu Kamper
– Kayu Bengkirai
– Kayu Kruing
– Kayu Meranti, kayu Lanan (Begesting)
– Kayu Kempas

V.1.2. Cara Pengawetan Kayu Standart FT. UGM Yogyakarta.

Bahan Pengawet : Garam Wolmanit C.B.
Mengandung Tembaga
Berbentuk Bubuk
Larut dalam Air

Sebelum melaksanakan pengawetan kayu, petugas harus memakai alat-alat keamanan
seperti antara lain : sarung tangan karet dan tutup hidung.
Pemakaian tutup hidung sangat diperlukan pada waktu menimbang dan meng hancurkan
bahan pengawet.

Sistem Rendaman Panas / Dingin

Rendaman panas umumnya memberikan hasil yang lebih baik dari rendaman dingin.
Tujuan dari proses pemanasan di sini terutama untuk mengeluarkan udara dari sel-sel
kayu sebanyak mungkin dan memperbesar ruang-ruangannya, agar bahan pengawet
dapat lebih mudah dan lebih dalam masuk kedalam kayu.
Di samping itu, bila telah ada mahluk-mahluk perusak di dalam kayu, besar kemungkinan
akan mati karena suhu.
Garam Wolmanit dicampur sebegitu rupa diaduk rata.

CONTOH : ± 1.000 ltr.Air & 30 kg. Wolmanit CB

Kemudian komponen-komponen kayu yang telah siap hendaknya diatur rapi dalam be -
jana pengawet. Dan pada tiap-tiap tumpukan komponen kayu tersebut diletakkan kayu
pengganjal, dimaksudkan adalah agar pada komponen-komponen kayu tersebut terda-
pat rongga, sehingga larutan garam Wolmanit dapat masuk kesel-sel tumpukan kayu.
Setelah tumpukan komponen kayu dianggap cukup, maka campuran garam Wolmanit
dapat dimasukkan kedalam bejana pengawet, sehingga kayu dapat terendam betul
oleh larutan garam Wolmanit. Kemudian bejana pengawet tersebut dipanaskan dengan
api sampai mencapai panas 50°C – 60°C.

Setelah titik panas diperoleh, maka api dapat dipadamkan dan didiamkan selama 24
jam semenjak dipanaskannya bejana tersebut. Dimaksudkan agar larutan garam Wol -
manit dapat meresap betul-betul kedalam komponen-komponen kayu, sehingga cairan
dalam bejana sudah dingin. Maka kayu dapat dikeluarkan untuk kemudian diangin-angin-
kan selama 5 – 7 hari, baru siap digunakan.
Sebaiknya pada waktu diangin-anginkan kayu tidak terkena air hujan. Proses ini dapat
diulangi seterusnya.

Pekerjaan Kayu dibagi 3 Kelompok Utama :
1. Pekerjaan Kosen
2. Pekerjaan Rangka Plafond
3. Pekerjaan Rangka Atap :
– Kuda-kuda
– Gording, jurai, nok
– Usuk reng
– Listplank, papan talang
– Konsol, kolom dll.

V.2. PEKERJAAN KOSEN

Kosen biasanya di sub-kan, yang perlu kita perhatikan antara lain :
1. Gambar kerja (dicek terhadap denah dan letak, ukurannya)
2. Schedule pendatangan . (Dibuatkan form pendatangan )
Apabila kosen sudah datang perlu dicek ulang :
– Jumlah
– Type / ukuran / kerapihan / sambungan
– Jenis kayu
– Pengamanan / gawangan
Penempatan harus di tempat yang kering dan terlindung dari cuaca.
Pemasangan / penyetelan kosen harus diperhatikan :
– Peil kosen
– Lot ( vertikal )
– Angkur kosen untuk samping minimal 2 buah
– Angkur atas untuk lebar kosen lebih dari 2 m ( tiap jarak ± 1 m)angkur dibuat ø 10 mm
panjang ± 20 cm, pemasangan angkur tidak boleh langsung dipaku tapi harus di bor
dulu ( sebab kosen bisa pecah ).
– Skor pembantu harus dipasang di belakang kosen ( lihat Gambar ).
– Gawangan tidak boleh dilepas sampai dengan plesteran selesai.
– Angkur duk segera di cor.
– Pemasangan sesuai dengan gambar ( as dinding, rata luar, rata dalam ).
– Setelah dipasang harus diamankan dari benturan-benturan pekerja,
Lihat Gambar .
– Lebih dari 1,20 m di skoor bagian bawah (lihat gambar).

V.3. P L A F O N D

Gambar rencana ====> Gambar kerja
Yang perlu diperhatikan untuk rangka plafond adalah :
– Posisi / letak pembagian hanger ====> posisi / letak hanger berlawanan / tegak lurus
terhadap / dengan kuda-kuda ( plafond di bawah rangka atap ).
– Posisi / letak pembagian hanger arah memendek ( plafond di bawah plat beton ).
– Pemasangan hanger lihat tabel ( jarak sambungan ).
– Modul pembagian plafond :
Diusahakan menghindari potongan (las-lasan).
– Potongan tepi lebih besar dari 1/2 modul (diusahakan simetris).
– Pemasangan rangka plafond harus menghindari potongan terpendek.
– Pemasangan rangka plafond harus dengan klos ukuran 2/3 X 15 cm, satu sisi bagian
yang akan dilapisi bahan plafond harus diserut.
– Khusus pemasangan rangka plafond tepi dinding dengan kayu ukuran 4/6.
– Rangka lampu in bow dengan kayu 4/6.
– Kayu hanger yang tegak lurus dinding harus masuk dinding ± 5 cm.
– Rangka plafond harus di cat meni .
– kecuali ada ketentuan lain.

Penggantung Plafond :

- Untuk plafond di bawah atap kayu harus pakai penggantung kayu ukuran 3/5
– Untuk plafond dibawah atap selain atap kayu menggunakan kawat ø 4 mm
( Kawat seng tidak diperbolehkan )

Metode Pemasangan :

Peil ====> harus ditentukan & di ukurkan dari rencana lantai jadi (tidak boleh diambil dari
ambang atas kosen ). Dicheck dengan sistem benang silang dan diagonal.

V.4. RANGKA ATAP KAYU

Meliputi : Kuda – kuda
Gording – Jurai, Papan Nok, dll
Usuk reng, Listplank
Konsol

V.4.1. KUDA-KUDA
Kuda – kuda dibagi 2 macam :
– Normal , Bentang maksimum 8 m ( L 8 M’ )
– Khusus bentang 8 m s/d maksimum 12 m ( L lebih dari 12 m tidak efisien dan terlalu
berat untuk konstruksi kayu )

Cara pembuatan kuda-kuda :
– Dibuat gambar kerja ====> perhatikan tempat sambungan disesuaikan dengan panjang
kayu normal ( yang ada di pasaran ) ===> posisi sambungan harus diusahakan sedemi-
kian rupa ( pada batang pertemuan ) (lihat gb. terlampir).
– Tiap sambungan harus di beri balok kunci sebagai penguat.
– Letak baut + beugel harus di perhatikan ( sesuai gb. kerja yang betul ).
– Tiap sambungan harus diberi kode tertentu untuk memudahkan pada saat penyetelan
kembali diatas, sebab kuda – kuda di buat di bawah dan dirangkai / di setel dulu di bawah
setelah betul-betul sempurna dilepas lagi untuk supaya ringan waktu menaikkan.

Fungsi Kuda – Kuda :
1. Struktur atap, sebagai rangka / dudukan penutup atap dan penggantung pekerjaan di ba-
wahnya misal plafond , dll.
2. Arsitektur atap, untuk membentuk atap sesuai fungsinya dan sebagai keindahan bentuk
atap itu sendiri.

V.4.2. GORDING JURAI, NOK, DLL

1. GORDING
– Gording adalah bagian dari rangka atap, dan fungsi utama sebagai penyangga penutup
atap ( atap asbes, seng dll ).
– Penyangga usuk reng ( atap genteng, sirap dll ).
– Untuk gording kayu idealnya tumpuan tidak boleh lebih dari 3 m bentang.
– Sambungan gording di buat sistem bibir miring berkait (lihat gambar).

2. JURAI & NOK
– Jurai dan nok juga bagian dari rangka atap yang letak dan posisi – posisinya pada ujung
tekukan atap ( sudut atap ).
Jurai ada 2 macam :
1. Jurai luar ====> nok
2. Jurai dalam ====> talang
Fungsi jurai dan nok adalah sebagai pemberhentian tumpuan .
Usuk pada sudut bentuk atap, sebagai tumpuan talang ( jurai dalam ), sebagai perletakan
papan nok / reuter ( jurai luar ).

3. USUK RENG
Fungsi : sebagai tumpuan langsung penutup atap genteng.
– Pemasangan usuk reng disesuaikan dengan jenis genteng yang akan di pakai.
– Jarak usuk di usahakan kelipatan dari panjang reng yang di pakai atau ada ketentuan
lain yang di syaratkan .
Ukuran usuk adalah 4/6 dan 5/7, sedang ukuran reng 1/2, 2/3, 3/5 .
– Bentang usuk tidak boleh lebih dari 2 m dengan sudut atap kurang dari 30°

4. LISTPLANK
Fungsi : sebagai penutup akhiran usuk / list tepi atap .
Listplank kayu ada beberapa bentuk variasi sesuai dengan permintaan (gambar yang
sudah di tentukan ).
– Listplank di pasang dengan bantuan pelurus, yang mana pelurus itu sebagai pengikat
ujung ujung usuk supaya jarak dan ukuran usuk terkontrol.
– Sambungan listplank menyesuaikan 1/2 ekor burung ( lihat gambar )

5. KONSOL
Fungsi : sebagai penyangga rangka atap overstek
– Yang perlu di perhatikan adalah cara sambungan dan kedudukan angkur .
Sambungan konsol terutama bagian atas batang tarik harus sambungan berkait
( gambar ).
– Contoh Macam-macam sambungan ( Gambar terlampir )

 

 

BAB VI PEKERJAAN BATU

BAB VI
PEKERJAAN BATU

VI.1. AANSTAMPING :

a. Fungsi dari aanstamping, untuk meluaskan daerah beban, sehingga pondasi bisa
menerima beban yang lebih besar, dengan biaya yang lebih murah.Dengan melihat
fungsi aanstamping diatas, maka dalam pekerjaan aanstamping harus diperhatikan
hal-hal seperti dibawah ini.
b. Untuk memadatkan pasir urug dicelah-celah batu, harus disiram dengan air, sampai
pasir betul-betul mengisi celah-celah batu kali.
c. Pemakaian ukuran batu kali variatif
d. Susunan batu kali dibuat berdiri, dengan ketebalan sekitar 20 cm dan dikunci dengan
batu yang ukuranya lebih kecil.
e. Batu kali jangan blondos, tetapi batu pecah dengan tujuan agar bidang sentuh antar
permukaan batu belah lebih luas.

sketsa susunan batu belah pada pekerjaan aanstamping.

VI.2. PASANGAN BATU KALI :

a. Fungsi pondasi batu kali, sebagai penerima beban dari struktur atas untuk diteruskan
ke tanah.
b. Batu kali jangan blondos, tetapi harus pecah, sehingga lebih stabil. Karena permukaan
sentuh antar batu kali menjadi luas, dan lekatan antara spesi dengan permukaan batu
pecah menjadi kuat.
c. Batu belah harus bebas dari kotoran tanah, dan jangan batu yang porous atau secara
visual kelihatan berongga.
d. Pemasangan profil batu kali harus sesuai dengan ukuran/dimensi dan harus stabil.
Bahan profil sebaiknya memakai kayu 4/6 atau 5/7, jangan memakai bambu yang
di belah kecil, sehingga bentuk profil pondasi gampang berubah-ubah.Setelah selesai
pekerjaan pondasi, maka bahan profil segera dibersihkan.
e. Pada sisi atas pondasi, harus diberi stek-stek O 8 mm jarak 2.00 m, dengan tujuan agar
ada ikatan antara pondasi batu kali dengan struktur diatasnya.
Besarnya diameter besi stek tidak mengikat, bisa memakai sisa-sisa potongan yang
ada di lapangan.
f. Permukaan atas pondasi juga harus dikasari, dengan tujuan agar menyatu dengan
struktur diatasnya.

sketsa susunan batu kali pada pondasi batu kali.

ukuran-ukuran praktis pada pondasi batu kali

g. Jika pondasi batu kali dipakai untuk pagar, dan juga berfungsi sebagai dinding
penahan maka jangan lupa memberi suling-suling.
h. Suling-suling memakai PVC O 2″ dengan luas tangkapan 4 m2 tiap suling-suling.
i. Sisi dalam dinding penahan diberi kerikil, dan ujung suling-suling diberi ijuk.
Tujuanya agar air mudah terkumpul dan segera mengalir keluar dari dinding penahan.

sketsa posisi suling-suling

j. Sebelum pemasangan batu kali, maka perlu diperhatikan penempatan batu kali.
Penempatan batu kali yang tepat, akan mengurangi langsiran batu kali yang berulang.
Maka setiap pelaksana lapangan harus memberi sketsa penempatan batu kali.
k. Pembongkaran batu kali dari truk tidak harus dibongkar di satu tempat, tetapi bisa
bisa beberapa tempat, tergantung sket penempatan batu kali.Penempatan pembong-
karan batu kali yang tepat adalah tugas logistik lapangan, dengan berdasar sketsa
dari pelaksana.

sketsa penempatan batu kali saat bongkar dari truk.

VI.3. BERABEN PONDASI BATU KALI.

a. Fungsi dari beraben adalah untuk mengurangi filtrasi air ke dalam tubuh pondasi.
b. Pemberian spesi cukup pada siar-siar antar batu kali saja.
c. Pada permukaan batu kali tidak perlu diberaben (diberi spesi), juga tidak perlu
di kamprot

sketsa pekerjaan beraben

VI.4. PASANGAN BATU BATA :

a. Siar horisontal maximal 2,5 cm tebal minimal 1,5 cm tebal yang seharusnya adalah 2 cm.
Secara visual, tebal spesi kurang dari setengah tebal batu bata.
b. Siar (tebal spesi) ke arah vertical 2 cm. Dan siar vertikal tidak boleh ketemu di dalam
2 baris yang berurutan.

sketsa siar pada batu bata

c. Batu bata yang tidak dipakai jika batu-bata tersebut tinggal kurang dari 1/3.
d. Pengangkutan batu bata dengan kotak yang khusus untuk batu bata. Batu bata tidak
perlu dikeluarkan dari kotak tersebut. Sehingga batu bata tidak tidak banyak yang
pecah, karena tidak sering bongkar muat muat bata.
e. Profilan batu bata harus di sekral, dan tiap sekralan untuk dua baris batu bata.
f. Tiap hari, pemasangan batu bata kearah vertikal maximal 1 meter. Jika lebih dari satu
meter, maka spesi terbawah akan tidak kuat menerima beban dari atas dan akan
roboh (mplotrok).
g. Untuk jarak profil maximum 3 meter, jika lebih dari 3 meter harus diberi profil tambahan.
Karena dengan tarikan benang lebih 3.00 m akan tidak waterpas.
h. Sebelum pemasangan batu bata, maka batu bata di siran sampai jenuh. Penyiraman
batu bata saat berada di kotak batu bata.

sketsa kotak batu bata.

catatan : kotak batu bata di taruh dekat tukang batu, dan batu bata tidak usah dikelu-
arkan dari kotak.

i. Sebelum pemasangan dinding batu bata, maka tanah di sisi kanan kiri dinding harus
diratakan, dengan tanah seadanya. Hal ini bertujuan agar saat pengambilan spesi
yang jatuh tidak kesulitan. Dengan tanah yang sudah rata, maka tidak perlu memberi
papan di bawah pasangan batu bata.

sketsa perataan tanah di sisi bawah pas. batu bata.

j. Hubungan batu bata dengan kolom beton, dihubungkan dengan stek-stek dari sisa -
sisa besi potongan.

sketsa hubungan antara batu bata dengan kolom beton.

k. Hubungan antara dinding batu bata sisi tepi bangunan dengan dag beton, supaya
diberi tanggulan yang miring keluar. Pemberian tanggulan ini dilaksanakan saat
pengecoran dag beton.

sketsa pasangan batu bata tepi bangunan.

catatan : sket diatas berlaku juga untuk dinding batu bata KM/WC, dengan
kemiringan tanggulan ke arah dalam KM/WC.

l. Hubungan antara batu bata dengan kolom baja, bisa dilihat seperti sket seperti
di bawah ini.

sketsa hubungan antara batu bata dengan kolom beton.

Catatan-catatan lain :
– Tidak dibenarkan batu bata di tembus andang kerja. Jika untuk pegangan andang,
terutama untuk andang luar, maka saat pengecoran balok tepi supaya dipasang
besi beton diameter 6 mm, yang nantinya untuk mengikat andang.

sketsa pengikatan andang luar lihat pada pekerjaan beton

VI.5. PLESTERAN :

a. Campuran disesuaikan dengan spesifikasi yang ada. Yang perlu diperhatikan adalah
pelaksanaan campuran spesi plesteran.
Contoh :
Jika di sebutkan campuran plesteran 1 PC : 5 PS, maka pelaksanaan campuran spesi
tidak 1PC : 5 PS, tetapi harus dilaksanakan 1PC : 7PS. Hal ini disebabkan, semen yang
dipakai untuk acian, termasuk dalam analisa campuran plesteran.
Untuk catatan, tiap meter persegi acian diperlukan 5 kg semen ini senilai dengan 0.1zak
semen (untuk ukuran 50 kg)
b. Sebelum pelaksanaan plesteran maka perlu kelabangan vertikal dan horisontal.
Kelabangan vertikal di buat jarak kurang lebih 1.00 m, kelabangan horisontal di buat
sisi atas dan sisi bawah, dengan tujuan kelabangan atas untuk pedoman pemasangan
plafond dan sisi bawah untuk pedoman pemasangan plint lantai.

sketsa kelabangan sebelum plesteran dimulai

c. Plesteran kasar maupun acian harus memakai blebes dengan pasang 2.00 , blebes
disediakan oleh kantor, mandor tinggal pinjam, jika hilang maka mandor harus ganti.
Blebes dari bahan alluminium profil, yang dijamin kelurusanya dan keawetanya.
d. Ketebalan plesteran idealnya 1 1/2 cm maximum 2 cm, tebal didnding batu bata jadi
maksimum 15 cm.
e. Acian dikerjakan jika satu bidang telah selesai plesteran kasar, dengan kata lain acian
di kerjalkan per satu bidang. Jika bidangnya sangat luas dan tidak bisa diselesaikan
dalam satu hari, maka garis batas di buat lurus, baik vertikal maupun horisontal.
f. Tidak boleh mempercepat pengeringan plesteran dengan PC kering ditaburkan
g. Sebelum plesteran dikerjakan, supaya di kontrol apakah sparing-sparing di dinding
yang akan diplester sudah terpasang semua.
h. Hubungan antara plesteran dengan beton, baik dengan kolom beton maupun lisplank
beton, harus memakai kawat ayam.
i. Acian tidak boleh memakai kuas.

sketsa hubungan antara plesteran dengan kolom beton

sketsa hubungan antara plesteran dengan lisplank beton.

j. Hubungan antara plesteran dengan kolom baja harus diberi tali air.

sketsa hubungan antara plesteran dengan kolom baja.

k. Plesteran pada beton, maka permukaan beton harus dikasari atau di kamproti pada
waktu membuka begesting.
Campuran spesi memakai minimal 1PC : 3 PS (jika spec 1PC : 2PS), pasir yang dipa-
kai harus pasir beton)

VI.6. BETON PRAKTIS :

a. Beton praktis terdiri dari sloof praktis, kolom praktis dan ring praktis (balok latei).
b. Beton praktis berfungsi sebagai pengaku pasangan batu bata (batako, rooster,
glassblock).

c. Tempat-tempat yang harus diberi beton praktis sebagai berikut :
– Pada pertemuan dinding batu bata maupun bataco (diberi kolom praktis).
– Dinding batu bata (bataco) yang telah mencapai luasan 12 m2 (diberi kolom dan ring
praktis).
– Pemasangan glassblock dengan luas minimal 0,6 x 1.00 (atau luasan yang sama)
diberi ring dan kolom praktis keliling.
– Pemasangan rooster dengan luas minimal 1.50 x 1.00 (atau luasan yang sama)
diberi ring dan kolom praktis keliling.
– bentangan kosen yang lebih dari 1.20 m di beri balok latei, jika kurang dar 1.20 m
cukup diberi rolag batu bata.
– Pada keliling kosen alluminium dengan ukuran minimal 0.6 x 1.00 harus diberi kolom
dan ring keliling.
d. Pemakaian besi pada beton praktis 4 O 8 dan begel dia. 6-20,
e. Stek untuk persiapan kolom praktis (pada dag beton /sloof)cukup 1 bh dia. 12.(min).

sketsa stek untuk kolom praktis

f. Begisting untuk beton praktis dibuat dari kayu bangkirai 2/20 x 2.00, biar awet sehingga
bisa dipakai berulang. Begesting ini disediakan oleh kantor, dan pihak mandor tinggal
pinjam, jika hilang maka mandor harus mengganti.
Papan begesting diberi lobang untuk ikatan bendrat.

sketsa pemasangan begesting pada beton praktis

g. Sebelum pemasangan begisting, maka spesi yang nonjol-nonjol kanan kiri dinding
batu bata harus dibersihkan dulu sehingga tidak menambah ketebalan dinding batu
bata, yang mengakibatkan ketebalan kolom pkatis melebihi dinding batu bata sehing-
ga akan terjadi betel-betel saat akan mulai pekerjaan plesteran.
h. Pengecoran kolom praktis dikerjakan tiap ketinggian 1.00 m setelah selesai pema-
sangan batu bata

VI.7. FLOOR UNTUK LANTAI KERAMIK (di lantai dasar) :

a. Sebelum floor beton dimulai maka tanah dibawahnya harus dipadatkan, terutama ta-
nah bekas galian.
b. Untuk leveling tanah di bawah floor beton dipakai pasir urug, dan disiram dengan air
sampai jenuh dengan ketebalan sekitar 5 cm.
c. Campuran yang dipakai 1PC : 3PS : 5KR, split bisa memakai sisa ayakan pasir munti-
lan.
d. Ketebalan floor beton minimal 5 cm, tanpa tulangan susut.

sketsa potongan floor beton keramik

e. Sebelum floor beton di mulai, maka kepalaan harus dibuat terlebih dulu. Kepalaan di-
buat dengan jarak kurang lebih 1.00 m ke arah memendek dari ruang yang akan di-
floor.
f. Perataan adukan dengan blebes, floor beton harus padat dengan cara di jojoh pakai
cetok, dan permukaan dibuat kasar sehingga bisa monolit dengan spesi keramik.

VI.8. FLOOR UNTUK LANTAI KERAMIK (di atas dag beton) :

a. Sebelum floor beton dimulai maka permukaan dag beton harus dibersihkan dari sisa-
sisa kayu begesting, kotoran-kotoran lain, dan disiram air secukupnya.
b. Campuran yang dipakai 1PC : 3PS : 5KR, split bisa memakai sisa ayakan pasir munti-
lan.
c. Ketebalan floor beton minimal 5 cm, tanpa tulangan susut.
d. Sebelum floor beton di mulai, maka kepalaan harus dibuat terlebih dulu. Kepalaan di-
buat dengan jarak kurang lebih 1.00 m ke arah memendek dari ruang yang akan di-
floor.
e. Perataan adukan dengan blebes, floor beton harus padat dengan cara di jojoh pakai
cetok, dan permukaan dibuat kasar sehingga bisa monolit dengan spesi keramik.
f. Dalam pekerjaan floor beton yang sangat penting adalah jangan sampai ada kantong
udara yang terjebak antara floor beton dan daag beton. Karena kantong udara ini jika
menerima suhu yang tinggi maka butuh ruang untuk mengembang. Jika ruang yang
ada tidak cukup akan membuat terlepasnya lekatan antara floor beton dag beton.

sketsa potongan floor beton di atas dag beton

VI.9. PASANG KERAMIK LANTAI :

a. Pekerjaan keramik boleh dikerjakan jika pekerjaan plafond, serta pekerjaan batu dia-
tas keramik (di ruang yang akan dipasang keramik) telah selesai. Karena pemasangan
keramik itu tidak memakan waktu lama.
b. Sebelum dipasang, maka keramik direndam kurang lebih 24 jam , atau sampai cukup
jenuh, yaitu sampai gelembung-gelembung udara tidak tampak lagi.
c. Pertama-tama yang harus dikerjakan adalah kepalaan keramik dibuat saling tegak
lurus, dari kepalaan keramik ini akan diketahui las-lasan yang akan terjadi di setiap
tepi ruangan jika terjadi kejanggalan akan diketahui lebih awal.
d. Dalam pengambilan las-lasan, maka tiap ruang berdiri sendiri, kecuali ruangan -rua-
ngan yang dihubungkan pintu, dan lantai memiliki peil yang sama. Lebar las-lasan ha-
rus lebih dari setengah ukuran keramik normal.
e. Untuk ruang dekat tangga, hall dan selasar, pengambilan naat berdasar naat keramik
tangga.
f. Didalam pemasangan keramik, yang perlu selalu diperhatikan adalah jangan sampai
ada rongga udara baik antara spesi dengan floor beton maupun antara spesi dengan
keramik. Karena rongga udara ini yang akan menyebabkan kegagalan dalam pema-
sangan keramik (meledak), jika suhu ruangan naik, karena udara jadi mengembang.
Untuk hal diatas maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
– Floor beton dibersihkan dan dibasahi, sebelum spesi di gelar.
– Sebelum keramik di pasang, maka spesi di gelar tidak untuk satu-satu keramik, tetapi
untuk jumlah yang cukup banyak. Biasanya 2 (dua) baris keramik dan memanjang.
– Yang penting untuk diperhatikan juga adalah saat menggelar spesi, harus padat, se-
hingga tidak ada rongga udara antara spesi dengan floor beton.

sketsa pemasangan keramik

sketsa pemasangan keramik jika tanpa floor beton.
(jika space antara peil dag beton dan top finish keramik tinggal kurang 5 cm)

g. Dalam pengakiran spesi jangan sampai miring ke dalam, tapi yang benar miring kelu-
ar.

sketsa akhiran spesi pada pemasangan keramik

h. Naat keramik jika tidak ada ketentuan lain maka dibuat 3 mm.
Untuk kerapian naat ini maka perlu diperhatikan masalah presisi keramik. Jika dalam
type keramik yang sama tetapi terdapat selisih ukuran, maka perlu diadakan penyorti-
ran keramik dulu. Sehingga dalam satu ruang akan kita dapatkan naat yang sama le-
barnya.
i. Kolotan keramik dibuat sampai dibatas lapisan email keramik. Jarak waktu antara
pemasangan keramik dan kolotan idealnya 7 (tujuh) hari, sehingga pengeringan spesi
sudah mencapai 70 persen. Kecuali tempat-tempat yang dipakai lalu lintas pekerja,
jika tidak segera dikolot keramik akan menggeser.
Sebelum kolotan dimulai, maka perlu diadakan pengontrolan keramik-keramik yang
menggeser (ngeprok), untuk diperbaiki terlebih dahulu
Cara pengolotan yang baik harus melalui 2 tahapan :
– Pertama, naat keramik di siram dengan air semen yang cair, sehingga masih bisa ma
suk pada pori-pori udara antara keramik dan spesi.
– Kedua, naat ditutup dengan bahan kolotan yang kental, dan digaris dengan kabel.

sketsa cara kolotan yang baik

j. Untuk pemasangan keramik KM/WC lihat Bab pekerjaan KM/WC.

VI.10. PASANG KERAMIK DINDING :

a. Pekerjaan keramik dinding boleh dikerjakan jika sparing-sparing dalam dinding telah
selesai dikerjakan.
b. Sebelum dipasang, maka keramik direndam kurang lebih 24 jam , atau sampai cukup
jenuh, yaitu sampai gelembung-gelembung udara tidak tampak lagi.
c. Pertama-tama yang harus dikerjakan adalah kepalaan keramik. Pada kepalaan kera-
mik dinding luar pertama-tama diambil as diagonal bidang. Dari as diagonal, kepala-
an keramik di buat keatas (dan kebawah) serta kekanan (dan kekiri). Jadi las-lasan
simetris pada semua sisi.
d. Cara penentuan las-lasan
misal : L = panjang total bidang (cm)
B = panjang keramik (cm)
A = lebar las-lasan (cm)

Pertama-tama panjang total bangunan dibagi keramik utuh, misal masih
sisa Y cm.
A = Y / 2
maka A harus lebih dari 1/2 B
Jika terjadi A kurang dari 1/2 B, maka maka las-lasan menjadi
A = ( Y + B ) / 2
Berarti keramik utuh berkurang satu.

sketsa pemasangan keramik dinding dengan jumlah keramik utuh (genap).

sketsa pemasangan keramik dinding dengan jumlah keramik utuh (ganjil).

e. Untuk pemasangan keramik dinding interior (dalam bangunan)
Kepalaan keramik diambil dari atas (utuh) dibuang kebawah. Untuk horisontal dibuat
simetris.

sketsa pemasangan keramik dinding dalam bangunan.

f. Untuk pemasangan keramik dinding, maka plesteran kasar harus selesai.
g. Jarak waktu antara plesteran dan pasang keramik kurang lebih 7 hari, sehingga ples-
teran cukup kering.
h. Pemasangan keramik ke dinding dengan cara memberi acian ke plasteran kasar. Se-
belum keramik ditempelkan maka sisi belakang keramik juga diberi aciian terus di
ditempelkan.
i. Naat keramik jika tidak ada ketentuan lain maka dibuat 2,5 mm.
Untuk kerapian naat ini maka perlu diperhatikan masalah presisi keramik. Jika dalam
type keramik yang sama tetapi terdapat selisih ukuran, maka perlu diadakan penyorti-
ran keramik dulu. Sehingga dalam satu bidang akan kita dapatkan naat yang sama le-
barnya.
j. Kolotan keramik dibuat sampai dibatas lapisan email keramik. Jarak waktu antara
pemasangan keramik dan kolotan idealnya 3 (tiga) hari.
Sebelum kolotan dimulai, maka perlu diadakan pengontrolan keramik-keramik yang
menggeser (ngeprok), untuk diperbaiki terlebih dahulu
Jika kolotan dinding berwarna terang, maka sebaiknya kolotan dikerjakan jika peker-
jaan mendekati selesai.

VI.11. GRANITE DAN MARMER

Sebelum pemasangan Granite dan marmer pada sisi belakang diberi Latecrite.
Guna latecrite untuk mencegah infiltrasi air di bawah granite / marmer yang menyebabkan
kandungan Fe (besi) muncul ke permukaan yang kadang-kadang kelihatan seperti karat.
Pemasangan granite dan marmer kita perhatikan motifnya apakah bermotif seragam
(monoton) atau berurat, selain itu diperhatikan juga warnanya, karena biasanya motif yang
sama tetapi ada perbedaan di warna.
Kesimpulannya sebelum memasang marmer mmaupun granite perlu adanya penyortiran
marmer maupun granite untuk satu bidang pemasangan dan di gelar di bawah ( sebelum
dipasang). Setelah semua motif dan warna serasi masing-masing mamer diberi nomor urut,
kemudian dipasang sesuai dengan bidang yang diinginkan.
Lebar nat 3 mm dan kolotan memakai resin.
Finishing akhir marmer dan granite bisa dengan dipoles ulang setelah dipasang.
Untuk pemasangan granite dan marmer pada dinding harus diikat dengan kawat pada sisi
belakang.

VI.12. BATACO

a. Jika tidak diplester, maka tali air cukup dirapikan (tidak diaci).
b. Posisi pemasangan Bataco, lobang di sisi bawah.
c. Rongga bataco tidak diisi.
d. Kolom praktis dan ring praktis tiap 12 m².
e. Spesi memakai campuran 1 : 3 (pasir muntilan).

VI.13. PAVING

a. Tanah dasar harus dipadatkan karena paving biasanya menahan beban berat.
b. Sebelum pasang paving harus diberi lapisan pasir muntilan minimum tebal 5 cm.
c. Setelah paving terpasang divibrator agar levelingnya baik sambil ditaburi dengan
pasir muntilan yang lebih halus untuk mengisi nat-nat paving.

VI.14. FLOOR HARDENER

a. Tebal Floor beton minimum 5 cm dengan tulangan tunggal.
b. Sebelum pengecoran dibuat kelabangan dengan jarak ± 1 m.
c. Perataan cor-coran dengan blebes.
d. Permukaan cor-coran ditaburi floorhardener dicampur dengan semen.
e. Ketebalan lapisan floorhardener bisa 3 mm ( campuran 3 kg ), 4 mm (campuran 4 kg),
5 mm (campuran 5 kg).
f. Untuk bidang yang luas pemadatan permukaan (perataan) memakai trawell, untuk
bidang yang sempit memakai raskam dari besi.

VI.15. PASANG ROSTER :

a. Keliling pemasangan rooster harus diberi beton praktis jika ukuran lebar lebih 1.50 m
dan tinggi lebih dari 1.00.
b. Macam-macam ukuran roster 30 x 30.
c. Dipasaran 20 x 20.
d. Naat antara roster dinding 4 mm.
e. Dibuat tali air antar naat.
f. Jika masih ada plesteran dinding pemasangan roster, roster harus dikurangi dari
air semen.

 

 

BAB VII PENUTUP ATAP

BAB VII
PENUTUP ATAP

Adalah suatu rangkaian konstruksi yang terdiri dari bahan kayu/baja/beton yang bertu-
juan sebagai penutup/pelindung.
Fungsi memberikan perlindungan terhadap bahan/material dari pengaruh cuaca dan
memberi bentuk untuk masa konstruksi di bawahnya.
Rangkaian konstruksi atap terdiri atas kuda-kuda, ikatan angin, gording, usuk reng, lisplank
talang, penutup atap.
Pada Bab ini hanya akan dibahas pelaksanaan usuk reng sampai penutup atap

VII.1. USUK DAN RENG

Penutup atap ada yang menggunakan usuk reng dan cukup menggunakan gording,
pelaksanaan tergantung dari jenis bahan penutup atap yang dipakai.
Sebelum usuk dipasang , chek kembali waterpas gording dan jarak gording dengan gam-
bar pelaksanaan supaya didapatkan hasil pemasangan dan kekuatan tekan usuk sesuai
rencana. Kayu usuk yang dipakai dipasaran biasanya berkisar pada ukuran 4/6 dan 5/7,
sedangkan reng yang dipakai juga berkisar pada ukuran 2/3 dan 3/4 untuk mengetahui
jarak usuk/reng dapat dilakukan trial & error dengan rumus :

M = 1/8 q l² M = Momen lentur ( Kg m’)
W = Momen kelembaman ( cm3 )
s = M/W s = Tegangan lentur ( Kg/m² )

Contoh perhitungan :

Diketahui/ditentukan – jarak usuk 5/7 = 50 cm
– jarak reng = 25 cm
– berat genteng (beton) = 5 kg/bh
ditanyakan ukuran reng yang dipakai .

Skets gambar :

Usuk 5/7 Reng 3/4

25 Cm

50 Cm

berat genteng = 5,0 kg
berat lain-lain = 50,0 kg
——–
q = 55,0 kg

M = 1/8. q. l ² ——> l = jarak usuk (dapat
= 1/8 .(q/(luas)). l ² disesuaikan)
= 1/8 . 55 . 0,5 ²
= 1,72 kg m
W = 1/6 b h² —– > b + h = ukuran reng yg digunakan
= 1/6 x 3 x 4 ²
= 8 cm3
s = M/W
= 1,72 / (8) lt I = 130 kg/cm² Terlalu kuat !!
= 21,50 Kg/cm ² lt II = 100 kg/cm² dicoba dg reng yg lebih kecil

Finishing usuk menggunakan bahan residu/terr , meni atau dapat juga menggunakan
garam wollman ( lihart ketentuan RKS ). Sedangkan finishing reng menggunakan
meni untuk kayu bukan jenis jati atau garam Wollman.

VII.2. PENUTUP ATAP

Yaitu bahan material yang berfungsi sebagai finishing akhir dari rangkaian kons-
truksi atap, bahan-bahan yang digunakan juga beraneka ragam, misal :
Tanah, kaca beton, keramik, fiber semen, plastic/fiber, seng, almunium , baja .

VII.2.1. GENTENG

Adalah jenis atap yang mempunyai bagian :
1. Alur sambungan
2. Jalan air
3. S a y a p .
4. Lubang Paku
5. Penahan tempias.

a. Genteng Tanah
Diproduksi dari bahan tanah liat dan air serta bahan campuran lain, pelaksanaan
dengan sistem pres dan dikeringkan pada suhu kering udara, selanjutnya dibakar.
Sifat : ringan dan tidak menyerap air.
Tabel 1

No JENIS b h t Berat Jml/m² Jrk Ky Uk.ky Sudut Jml
(cm) (cm) (mm) (Kg) (bh) (cm) (cm) ( ° ) Nok/m’

1 Kudus 20.5 27.5 5 1.45 24 23 2/3 30° 4.5
2 Jatiwangi 20 27.5 4.8 1.4 25 23 2/3 30° 4.5
3 Kebumen 19.6 27 4.8 1.4 26 23 2/3 30° 4.5
(Sokka)

Selain itu (tabel) perlu dibuat ‘Mock – Up’.

b. Genteng Kaca.
Bahan terbuat dari kaca 5 – 8 mm, selain digunakan untuk penutup atap. juga
dapat berfungsi sebagai ventilasi penerangan, ukuran biasanya menyesuaikan
dari jenis genteng yang ada, sifat ringan, tembus pandang, kedap air dan tidak
lapuk.

c. Genteng beton
Dibuat dari bahan baku PC, pasir, split 1/1 dengan mutu beton K.100-125 Kg/cm²
Sifat tahan api, kuat, tidak berkarat, tidak lapuk dan kedap air.
Tabel 2

No JENIS b h t Berat Jml/m² Jrk Ky Uk.ky Sudut Jml
(cm) (cm) (mm) (Kg) (bh) (cm) (cm) ( ° ) Nok/m’

1 ARCON 33.5 42 2.3 4.5 9 32 3/4 22°-30° 3
(Garuda besar)
2 CEMARA 33 42 2.2 4.3 9 35 3/4 22°-30° 3
(Eagle)
3 MUTIARA 33 41,8 2.3 4.4 9 34 3/4 17,5°-90° 3
(Nusantara)

Bahan pembantu : Paku, skrup
Kebutuhan warna untuk genteng beton disesuaikan dengan brosur yang ada dan pada
pada saat pendatangan dilapangan genteng sudah dicat 1 x oleh sub, pelaksanaan
finishing akhir setelah genteng selesai dipasang atau menjelang serah terima pertama
(kurang 1 minggu).

d. Genteng Keramik
Dibuat dari bahan tanah liat, PC, kapur, air dan lapisan keramik, diproduksi dengan
tekanan hidrolis ± 100 ton dan dipanaskan dengan temperatur 1000°C
Sifat : kuat, tahan api, tidak berkarat, kedap air, tahan segala cuaca, tidak berlumut,
warna tidak berubah, kedap suara dan tidak lapuk.
Tabel 3

No JENIS b h t Berat Jml/m² Jrk Ky Uk.ky Sudut Jml
(cm) (cm) (mm) (Kg) (bh) (cm) (cm) ( ° ) Nok/m’

1 KIA 31 31 2.12 3.2 14.5 25 3/4 25°-90° 4
2 IKAD 31 31 2.15 3.2 14.5 25 3/4 25°-90° 4
3 KARANG 30,9 32,6 2.15 3.32 14.5 26 3/4 20°-90° 4
PILANG (S 1)
4 CITRA 30 38 2.2 4.5 11 32 3/4 17,5°-90 3,5
(Columbia)

Bahan pembantu : Paku, skrup
Kebutuhan warna untuk genteng keramik dapat dipilih sesuai brosur yang ada,

e. Asbes motif Genteng
Terbuat dari bahan Fiber Semen, Pemasangan tidak memerlukan usuk dan reng
(menghemat kayu 30 – 35 %), sifat ringan, kuat, tahan api, tidak berkarat. Genteng
jenis ini bertipe gelombang kecil atau bermotif genteng.
Tabel 4

No JENIS b h t Berat Jml/m² Jrk Ky Uk.ky Sudut Jml
(cm) (cm) (mm) (Kg/lb) (bh) (cm) (cm) ( ° ) Nok/m’

1 HARFLEX 85 115 5 9.5 0.9 75 5/7 20°-30° 1
2 GRESIK 85 120 5 9.6 0.9 70 5/7 22°-30° 1
3 ATRESCO 85 115 5 9.5 0.9 75 5/7 22°-30° 1
4 JABESMEN 85 115 5 9.5 0.9 75 5/7 22°-30° 1

Bahan genteng ini juga dilengkapi dengan nok, lisplank dan flashing. Bahan pembantu :
Paku payung, skrup, tapingskrew.

f. Baja motif genteng.
Terbuat dari bahan baja galvanize dengan lapisan pelindung seperti coating,
epoxy (anti karat), Acrylic dan batuan koral.
Sifat : kuat, tahan api, ringan, anti karat, genteng ini biasanya terdiri dari 3 genteng,
7 genteng atau 15 genteng.

Tabel 5
Untuk type 7 genteng

No JENIS b h t Berat Jml/m² Jrk Ky Uk.ky Sudut Jml
(cm) (cm) (mm) (Kg) (bh) (cm) (cm) ( ° ) Nok/m’

1 TARA ROOF 41 132 5 7 – 37 2/3 10°-90° 1
2 DECRABOND 37 132 5 7 – 34 2/3 10°-90° 1
3 UTOMO 41 132 5 8 – 37 2/3 10°-90° 1
ROOF TILE

Bahan genteng ini juga dilengkapi dengan jenis nok, lisplank & flashing.
Bahan pembantu : Paku payung, skrup, tapingskrew
Untuk pemakuan diletakkan pada daerah penahan tempyas (lihat gambar).

VII.2.2. ATAP PLASTIK

Terbuat dari bahan plastik / polikarbonat yang transparan sebagai ventilasi se -
hingga cahaya dapat masuk, bentuk ada plat & gelombang.
Sifat bening, ringan, tahan cuaca.

Tabel 6

No JENIS b h t Berat Jml/m² Jrk Ky Uk.ky Sudut Overlap
(cm) (cm) (mm) (Kg/m²) (bh) (cm) (cm) ( ° )

1 Solar Tuff 86 180 0.8 1.1 1.5 100 5/7 1°-90° 1,5 glmb
(gelombang)
2 Lexan(plat) 85 2500 1,2-2 1.2 – 80 5/7 1°-90° 20 cm
3 Impralon 85 2500 1,2-2 1.2 – 80 5/7 1°-90° 20 cm
(Plat)

Bahan pembantu : Baut, taping skrew, paku rifet

Cara penyimpanan

Sebelum pemasangan sebaiknya disimpan dalam ruangan agar tidak langsung terkena
sinar matahari untuk mencegah kerusakan, tutupi dengan plastik supaya tidak berdebu.

Cara membersihkan

Bahan ini dapat dibersihkan secara berkala dengan menggunakan sabun biasa atau
deterjen. Digosok dengan kain halus atau karet busa, lalu dibilas dengan air bersih .
Atap polikarbonat akan tergores apabila menggunakan alat pembersih yang keras dan
tajam .

Cara pemasangan

- Satu sisi permukaan dilapisi bahan khusus yang sangat tahan terhadap sinar mata -
hari , letakkan membelakangi sinar matahari . Sisi ini terdapat label/produknya.
– Atap plastik ini dapat dipotong menggunakan gunting, gergaji ataupun pisau.
Apabila menggunakan gergaji atau pisau tahan sisi ujung atapnya.
– Gunakan 1,5 puncak untuk bentuk gelombang bulat dan 1 puncak untuk bentuk
gelombang kotak. Pemasangan berlawanan dengan arah angin.

Sketsa gambar

- Atap ini akan mengembang pada cuaca panas , disarankan diameter lubang untuk
skrup ± 5,00 mm lebih besar dari pemuaiannya.

Sketsa gambar

- Minimal kemiringan atap adalah 5 ° untuk curah air dan selalu dipasang searah de-
ngan gelombang tersebut.
– Sisi depan atap yang menggantung dilebihkan ± 100 mm dan untuk pemasangan
rangka memenjang sebaiknya diberi jarak maksimum 1,0 0 meter per rangka dari de-
pan kebelakang.

Sketsa gambar

- Gunakan skrup yang tahan cuaca/ bahan almunium.
– Untuk pemasangan yang mendatar / horisontal sekrup ditempatkan pada gelombang
bang atas/puncak , sedangkan untuk pemasangan yang tegak / vertikal sekrup ditem-
patkan pada gelombang bawah/dasar.

Sketsa gambar

VII.2.3. ATAP SENG, ALUMUNIUM DAN GALVALUM

Ketiga bahan diatas (Seng, All, Galvalum) dapat berupa plat ataupun gelombang
besar/kecil. Untuk ukuran dapat dipesan dengan panjang max imum 14,00 m’ (keter-
batasan angkutan).
Tebal dan bentuk gelombang juga dapat dipesan, toleransi ketebalan adalah ± 0,05 mm.
Produksi yang ada dipasaran :

- Cahaya Deck – Fumira – Alspan
– King Deck – Union
– Utomo Deck – BRC

Sifat tidak berkarat, ringan, kuat, tahan api, tahan cuaca, dapat dipasang pada konstruk-
si kayu atau konstruksi baja, kemiringan 0° – 90° .
Bahan pembantu yang digunakan :

Tabel 7

No Konstruksi Kayu Konst. Baja
(Bahan bantu)

- Skrup + ring karet – Baut + Ring karet
– Paku payung + Ring karet – Taping skrew
– Baut kait – Baut kait

Semua lubang pada lembaran atap seng, almunium, galvalum harus dibuat dengan
menggunakan boor listrik bermata tajam dengan diameter yang tepat. Jangan menggu-
nakan pahat atau alat lain yang dipukul untuk membuat lubang sebab lubang yang dibuat
dibuat dengan dengan cara demikian bentuknya tidak akan sempurna dan akan menye-
babkan kebocoran.

 

 

BAB VIII PEKERJAAN KM / WC

BAB VIII
PEKERJAAN KM / WC

Pada Bab ini akan dibahas pelaksanaan pekerjaan pada daerah kamar mandi dan
WC. Pelaksanaan ditinjau dari sub – sub pekerjaan yang dilaksanakan seperti :

1. KM / WC terhadap Beton
2. KM / WC terhadap M E
3. KM / WC terhadap Water Profing
4. KM / WC terhadap Pasangan dan keramik
5. KM / WC terhadap Pekerjaan kayu ( pintu² )

VIII.1. KM / WC terhadap Beton

- Elevasi KM/WC diturunkan 10 cm dari existing lantai beton/rencana peil palat beton
( Begesting dan pembesian diturunkan ).

diturunkan 10,0 cm. ± 0,00

- 0,10 10,00 Cm

Plat beton 12 Cm

- Direncanakan ada tanggulan beton pada tepi rencana ruangan dengan tinggi
10 cm , fungsinya untuk menahan filtrasi air.

Tanggulan dr beton kosong

- Perataan & pemeliharaan khusus setelah cor , dengan gosokan agar padat dan
dilapis dengan spesi 1 : 2 ( + BV Normal bila perlu).
– Rencana ruangan harus ditest dengan genangan air sekaligus test kedap air sela-
ma 24 jam dan dibuatkan berita acara yang ditanda tangani oleh Kepala Pelaksana
dan Pelaksana ( BA intern ).

VIII.2. KM / WC terhadap M E

- Pemasangan sparing untuk kloset , wastafel , floor drain, clean out, drain AC sebe-
lum pengecoran beton, harus dikerjakan dahulu .
– Sparing harus melebihi rencana peil lantai beton & tebal beton (di atas plat = 25 cm,
di bawah plat = 15 cm ). Bagian atas ditekuk/ditutup dengan cara dibakar.
– Agar hubungan beton dan bahan PVC tidak dirembesi air, sebaiknya
dilaksanakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Bahan yang terkena cor beton dikasari dahulu dan dibalut dengan kawat ayam.
2. Bahan yang terkena cor beton dikasari dahulu dan dibalut dengan kawat ayam,
di bungkus dengan bahan bitument .
3. Bahan diatas plat beton dilengkapi dengan ring karet /water stop.

Gambar pemasangan
Sparing pada plat beton

Kawat ayam Pipa PVC dibakar
+ Bitument

Plat beton
25 cm

15 cm

Ring karet

Plat beton
25 cm

15 cm

- Posisi sparing harus sesuai dengan Type Sanitair (lihat gambar Arsitektur dan ME).
– Jika type sanitair belum ditentukan, kita pakai sistem block out, dengan cara mem-
buat kotak kayu yang diletakkan pada rencana sparing, sehingga beton cor tidak
menutupi rencana letak sparing tersebut.
– floor drain tidak diletakkan di daerah pintu, tetapi jauh dari pintu. (diletakkan di de -
pan bodeman ).
– Rencana instalasi air bersih diletakkan pada perempatan nat keramik atau as ke-
ramik, simetris dengan luas keramik.

Gambar rencana letak kran air

Dinding keramik 20 x 20

Rencana Kran air

VIII.3. KM / WC terhadap Water proofing

- KM / WC di genangi air untuk check kedap air ( 24 jam ) & dibuatkan B A ,dan ditan-
da tangani oleh K P , pengecekan dilaksanakan 7 hari sebelum pelaksanaan
Water proofing.
– Pembersihan lokasi dari sisa kayu + sisa spesi.
– Water proofing dilaksanakan pada beton asli (sebelum floor lantai)
– Water proofing dapat berupa coating + membran / sheet
– Water proofing harus naik 20 cm pada dinding .
– Test Water proofing dengan genangan air, selama 24 jam dan dibuat BA dan di -
tandatangani oleh Kepala Pelaksana, Pelaksana dan Sub kontraktor.

WP naik 20 cm Dinding
bata 1 : 3

Beton

VIII.4. KM / WC terhadap Pasangan dan Keramik

- Pasangan bata menggunakan campuran 1 : 3 ( trasram ) setinggi 160 cm.
– Plesteran sisi dalam setinggi plafond, dengan campuran 1 : 3.
– Plesteran pada daerah rencana keramik tebal 1,00 cm, agar pasangan keramik
rata dengan plesteran diatasnya .
– Antara plesteran dinding dan pasangan keramik dinding harus diberi tali air,
lebar 5 mm dan dalam 5 mm dengan membuat mall dari kayu atau dari besi
siku/ besi U.

Detail dinding

Dinding bata

Plesteran 1 : 3 ( t =20 mm)

Tali air 5 mm x 5 mm

Plesteran 1 : 3 ( t =10 mm)

Dinding keramik

- Kepalaan keramik dinding dipasang horisontal + vertikal keliling ruangan .
– Kepalaan vertikal di mulai dari atas dibuang ke bawah, dengan pedoman peil floor
drain. ( pengambilan tinggi keramik diambil dari elevasi Floor drain ).
– Kepalaan Horisontal di ambil utuh dari rencana bak mandi .
– Ukuran nat keramik dinding 3 mm dan keramik lantai 4 mm.
– Plesteran diatas rencana dinding keramik diselesaikan dahulu .
– Bak mandi dikerjakan dari beton tanpa tulangan dengan tebal 7 cm walaupun
pada RKS tertulis pasangan bata.
– Untuk lantai bak mandi di floor dengan spesi 1 : 3 : 5 , dilapis spesi 1 : 2.
– Lantai bak mandi dibuat miring ke arah kurasan .
– Bodeman kloset jongkok dikerjakan dengan pasangan bata .
– Tinggi bodeman untuk kloset jongkok maksimal 20 cm dari lantai. Sedangkan untuk
kloset duduk tidak ada bodeman .
– Kemiringan bodeman closet dibuat miring kedepan 1,00 cm.
– Keramik pada daerah bodeman menggunakan jenis keramik lantai.
– Sebelum dilaksanakan pasangan keramik lantai, kerjakan plafond dahulu .
– Kemiringan keramik lantai 2 % kearah dalam / floor drain .
– Kolotan nat dinding dan lantai, menggunakan skrap dari bahan elastis dan alur di -
ratakan membentuk nat cekung, lebar nat 4 – 5 mm .
– Spesi yang digunakan untuk pasangan keramik lantai memakai 1 : 5 dengan
taburan PC 1 kg/ m 2.
– Khusus pasangan keramik bak mandi harus lebih dicermati nat-nat dan kolotannya,
agar tidak terjadi kebocoran .
– Kolotan untuk lantai dibagi 2 tahap, yaitu :
– Cair ====> agar PC masuk ke rongga keramik
– Kental ====> untuk lapis permukaan
– Perataan kolotan menggunakan kabel, sehingga didapatkan permukaan yang
cekung.

Prinsip Pemasangan keramik Plafond

Kepalaan vertikal

Kepalaan Horisintal

Dinding bata
Trasram

Plester trasram

Bak mandi
dari beton
20 cm

Bodeman kloset

VIII.5. KM / WC terhadap Pekerjaan Kayu ( Pintu-pintu )

- Pemasangan kusen dibuat rata luar atau cek dengan gambar kerja.
– Perbedaan peil antara KM & lantai induk jatuh pada sisi sponengan kusen
– Pemasangan pelapis daun pintu ( almunium , formika , teakwood) harus dipasang
setelah rambu pintu diselesaikan.

Detaill posisi kusen

Potongan atas
± 0,00
– 0,05
Potongan samping
Kosen
Daun pintu
lantai km / wc ± 0,00
– 0,05

 

 

BAB IX PEKERJAAN TANAH & PONDASI

BAB IX
PEKERJAAN TANAH & PONDASI

IX.1. PEKERJAAN TANAH

IX.1.1. Galian Tanah Keras

Metode penggalian tanah sebaiknya menggunakan metode yang digambarkan seperti
di bawah ini :

tanah galian

75 cm 75 cm
1 : 5 1 : 5

Hasil galian tanah jangan ditimbun persis di bibir galian tetapi minimum ditimbun 75 cm
dari tepi bibir galian. Hal diatas bertujuan agar tidak mengganggu jalan kerja pondasi
dan tidak menyebabkan longsor.

IX.1.2. Galian Tanah Lumpur

Jika jarak antar galian terlalu dekat maka hasil galian lumpur harus dibuang keluar
lokasi bangunan. Hal ini bertujuan agar menghindari kelongsoran pada dinding galian
dan tidak mengganggu jalan kerja proyek.

IX.1.3. Urugan Tanah Kembali

Untuk tanah keras urugan kembali dilaksanakn lapis-perlapis. Jika di dalam galian ada
genangan air maka harus dikeringkan dahulu.
Untuk tanah lumpur pengurugan lapis perlapis, jika ada air dalam galian harus dikering-
kan dahulu.
Untuk tanah lumpur urugan 40 cm lapis teratas sebaiknya dicampur dengan tanah yang
baik (tanah keras)

IX.1.4. Mobilisasi galian tanah
Di dalam pekerjaan galian tanah yang perlu diperhatikan adalah penghitungan secara
keseluruhan volume galian yang ada dalam bangunan.
Secara umum point-point yang perlu diperhitungkan :
01. Volume galian secara keseluruhan :
– Galian pondasi struktur
– Galian pondasi batu kali
– Galian poer
– Galian pondasi tangga
– Galia sloof
– Galian septiktank
– Galian bak kontrol
– Galian saluran keliling
– Galian sumur
– Galian dari keprasan tanah
– Dan galian tanah lainnya
– Sisa-sisa bobokan (volumenya berdasar pengalaman)
02. Volume tanah yang terpakai :
– Urugan kembali
– Peninggian lantai bangunan
– Peninggian tanah luar bangunan
03. Volume tanah yang dikeluarkan
Jika tanah galian volumenya lebih dari yang terpakai maka perlu dikeluarkan dari
lapangan. Dan volume tanah ini diperhitungkan dari awal (sejak mulai galian)
sehingga sisa galian segera dikeluarkan sejak awal, dan tidak menumpuk dila-
pangan.
04. Volume tanah yang didatangkan
Pendatangan tanah dari luar site, jika volume galian lebih kecil dari tanah yang akan
dipakai.
Jika ini terjadi, maka pendatangan tanah menunggu sampai tanah sisa galian ter-
pakai.

CONTOH :
Catatan : pondasi diatas untuk bangunan tingkat II

Jika kita lihat skema galian diatas, maka pekerjaan galian dapat kita bagi men-
jadi tiga kronologis pekerjaan galian.
01. Galian struktur (pondasi foot plat dan sloof)
02. Galian pondasi batu kali
03. Galian luar bangunan

Pertama-tama kita gali untuk galian pondasi foot plat dan sloof sehingga rencana
galian selain foot plat dan sloof bisa di pakai untuk menimbun tanah hasil galian
foot plat dan sloof.
Jangan sampai tanah galian dari foot plat ditimbun diatas rencana galian sloof.
Karena galian sloof akan dikerjakan sebelum urugan kembali pondasi foot plat
dilaksanakan. Jika ini dilakukan, maka akan terjadi over volume digalian.
Karena saat penggalian sloof, kita akan menggali juga tanah timbunan dari foot
plat.

skema penempatan tanah galian yang salah

CARA PERHITUNGAN TANAH GALIAN.

Dalam suatu proyek, maka galian secara keseluruhan dari bangunan harus kita
hitung terlebih dahulu.

Volume galian pondasi struktur

P1 = 1,50 x 1,50 x 1,50 = 3,375 m3
P2 = 1,25 x 1,25 x 1,25 = 1,935 m3
P3 = 1,00 x 1,00 x 1,00 = 1,000 m3

Volume galian sloof

S1 = 4,625 x 0,40 0,40 = 0,74 m3
S2 = 3,500 x 0,40 x 0,40 = 0,56 m3

Volume galian pondasi batu kali

PB1 = 4,60 x 1,00 x 0,80 = 3,68 m3
PB2 = 2,05 x 1,00 x 0,80 = 1,64 m3
PB3 = 2,875 x 1,00 x 0,80 = 2,30 m3

Volume galian septictank

SP = 2,00 x 2,00 x 1,50 = 6,00 m3

Volume galian saluran keliling

GL = 0,30 x 0,30 x 80 = 7,20 m3

VOLUME-VOLUME GALIAN DALAM BANGUNAN

01. Galian pondasi stuktur = 44,515 m3

P1 = 10 x 3,375 = 33,75
P2 = 5 x 1,953 = 9,765
P3 = 1 x 1,000 = 1,00

02. Galian pondasi sloof = 46,176 m3

S1 = 10 x 0,74 = 7,40
S2 = 12 x 0,52 = 6,24

03. Galian pondasi batu kali = 24,18 m3

PB1 = 5 x 3,68 = 18,60
PB2 = 2 x 1,64 = 9,765
PB3 = 1 x 2,300 = 1,00

04. Galian Septictank (2 bh) = 12,00 m3

05. Galian Saluran keliling bangunan = 12,00 m3

TOTAL GALIAN = 134,071 M3

VOLUME-VOLUME STRUKTUR DALAM TANAH

01. Volume pondasi stuktur 5,16 m3

P1 = 10 x 0,366 = 3,66
P2 = 5 x 0,250 = 1,25
P3 = 1 x 0,25 = 0,25

02. Volume pondasi sloof = 7,06 m3

S1 = 10 x 0,37 = 3,70
S2 = 12 x 0,28 = 3,36

03. Volume pondasi batu kali = 13,189 m3

PB1 = 5 x 2,024 = 10,12
PB2 = 2 x 0,902 = 1,804
PB3 = 1 x 1,265 = 1,265

04. Volume septictank (2 bh) = 3,375 m3

05. Volume saluran keliling bangunan = 3,2 m3

TOTAL VOL. STRUKTUR = 31,984 m3

VOLUME URUGAN KEMBALI = 102,087 m3
Volume urugan kembali, adalah hasil pengurangan dari Volume galian di kurangi
dengan volume struktur yang ada di dalam tanah

KESIMPULAN :

01. Jika didalam bangunan ada peninggian peil lantai setinggi 20 cm ( vol=48 m3)
maka masih perlu pendatangan tanah sebesar 48,00 – 31,984 = 16,016 m3.
Atau dalam kondisi tanah terurai, bisa memakai kooefisien 1,20.
Karena ini akan mendatangkan tanah, maka waktu pendatangan tidak perlu
awal-awal pekerjaan, tetapi menunggu betul-beturl tanah di site memang kurang.
Karena kadang-kadang ada material-material tidak terpakai yang bisa untuk
menggantikan urugan tanah.

02. Jika tidak ada peninggian tanah, maka kita akan pengeluarkan tanah sebanyak
31,984 m3. Atau dalam kondisi terurai sebesar 31,984 x 1,20 = 38,38 m3.
Pengeluaran tanah ini bisa dilakukan pada awal pekerjaan galian sehingga
galian tanah tidak mengganggu lokasi pekerjaan.

03. Jika dalam proyek ditentukan, bahwa peninggian peil bangunan berdasar tanah
sisa yang ada, maka bangunan cukup ditinggikan sebesar (31,984/240) =
13,32 cm atau bisa 15 cm.

Perhitungan volume total galian tanah sejak awal di dalam suatu proyek seperti
contoh diatas, agar dapat disimpulkan sejak awal, apakah kita akan mendatang-
kan tanah, mengeluarkan tanah. Selain itu kita akan bisa tepat di dalam menem-
patkan tanah sisa galian.

IX.2. PEKERJAAN PONDASI

Pondasi adalah konstruksi atau struktur terkhir yang memikul seluruh beban
dari bangunan untuk diteruskan ke tanah, cara penerusan beban oleh pondasi ke tanah
ada yang berdasr daya dukung tanah, berdasarkan friction ( lekatan ) ada juga
yang berdasarkan Point Bearing.
Kegagalan di pekerjaan pondasi akan menyebabkan kegagalan diseluruh konstruksi
bangunan. Untuk itu diperlukan pemahaman gambar dan spesifikasi dengan baik.

IX.2.1. PONDASI PANCANG

IX.2.1.1. Pengangkatan dan Perletakan (Penumpukan)

Yang akan dibicarakan disini adalah pondasi Tiang Pancang yang berukuran besar.
Yang perlu diperhatikan dalam metode pelaksanaan di lapangan adalah cara pengang
katan dan perletakan pancang.
Pengangkatan maupun penimbunan pancang yang perlu diperhatikan adalah posisi
atau letak tumpuan yaitu 1/5 L (panjang pancang) dari masing-masing ujung.

a. Handling

- Pada waktu handing, sling dapat dikerjakan pada 2 atau 4 titik angkat.
– Pada kasus 2 titik angkat :
Sling letakkan pada 1/5 x panjang tiang di kedua ujung.
– Pada kasus 4 titik angkat :
Sling letakkan pada 1/5 x panjang tiang di kedua ujung, ditambah dengan letakkan
pada 1,00 m dari titik-titik tersebut.

a = 60° – 90°

a

1/5 L 3/5 L 1/5 L

b. Penumpukan Tiang Pancang di Site

1. Hentikan truck/trailer dekat site ( ± 30 m dari lokasi titik pancang).
2. Siapkan balok kayu (5/10) diatas tanah padat dengan jarak dan posisi yang benar.
3. Turunkan tiang pancang dari truck/trailer dengan cara yang memenuhi syarat.
4. Setelah kedudukan tumpukan tiang pancang pertama in fixed, tempatkan lagi
balok ( 5/10 ) di atas tumpukan tiang pancang pertama dengan jarak dan posisi
yang sesuai dengan balok alas yang di tempatkan di bawah tumpukan pertama.
5. Tempatkan lagi tiang pancang untuk tumpukan kedua, dan seterusnya ( maximum
tiga tumpukan ).
6. Letakkan balok kayu pada 1/5 L, di kedua ujung tiang pancang.

c. Penarikan Tiang Pancang di Site
1. Angkut tiang pancang kesamping alat pancang ( ± 10 m ) dengan Fork Lift atau
crane dari tumpukan di site.
2. Angkut tiang pancang dengan sling milik alat pancang ke titik pancang pada titik
angkat 1/3 x panjang tiang pancang dari ujung tiang.

1/3 L

2/3 L L L max = 15 m.

IX.2.1.2. Kalendering
Kalendering bertujuan untuk mengetahui kekuatan perindividu pancang.
Cara pelaksanaannya dengan cara menempelkan kertas milimeter blok ke tiang
pancang kemudian kita letakkan pinsil kita buat garis hirisontal setiap ada pukulan
akan terbentuk garis vertikal. Setiap selesai satu pukulan kita buat garis horisontal,
maka akan terlihat seperti sket di bawah ini.
Kalendering dilaksanakan pada saat pancang mencapai tanah keras.

IX.2.1.3. Macam Tiang Pancang
a. Tiang Pancang Bulat
b. Tiang Pancang Segi empat
c. Tiang Pancang Segitiga

IX.2.1.4. Type Tiang Pancang
Setiap pemancangan yang sangat dalam maka tiang pancang akan dibagi
menjadi beberapa segmen.
a. Bottom : Segmen ini berada paling bawah dengan salah satu ujungnya
lancip.
b. Midle : Segmen ini posisinya di tengah dengan kedua ujungnya tumpul
c.. Upper : Segmen ini berada paling akhir

IX.2.1.5. Topi Pancang.

Topi pancang letakkan pada kepala tiang, yang fungsinya untuk menyerap kerusakan
bahan dan meratakan energi pemukulan ke tiang pancang.
– Topi pancang dapat dibuat dari baja yang fungsinya untuk menyerap kerusakan
bahan.
– Hammer dan tiang pancang yang bertopi harus terletak pada satu garis sumbu.
– Ukuran topi harus pas di atas kepala tiang, yang berfungsi untuk meratakan energi
pemukulan.
– Antara topi dan tiang pancang boleh terdapat kelonggaran senesar 15 mm.

IX.2.1.6. Bantalan Kepala Tiang Pancang ( Wood Cushion Material ) :

1. Gunakan bantalan kayu diantara kepala tiang pancang dan caping (topi baja)
dengan tebal minimal 10 cm (atau 4 lapis multiplex tebal 25 mm) untuk tiang
pancang single.
2. Tebal bantalan kayu minimal 15 cm (atau 6 lapis multiplex 25 mm) untuk tiang
pancang dengan sambungan.
3. Bila bantalan kayu menerima tegangan terlalu tinggi sehingga bantalan rusak /
hancur maka harus diganti yang baru.
4. Bila dijumpai kekerasan tanah ekstrem maka bantalan kayu baru harus disediakan
untuk setiap tiang pancang.
penting ! perhatikan point 1 s/d 4 lembar ini.

METHODE PEMANCANGAN

1. Gunakan mesin pemancangan dengan panjang Boom ± 12 – 18, dan panjang
leader 18 – 24 m’ untuk maximum panjang tiang pancang 12 – 18 m’.
2. Gunakan Diesel Hammer yang sesuai dengan jenis dan kapasitas tiang.
3. Gunakan topi pancang baja yang sesuai dengan ukuran / dimensi tiang pancang.
4. Gunakan bantalan kayu dengan tebal sesuai yang di syaratkan (minimal 10 cm).
5. Penarikan tiang pancang ke titik pancang harus sesuai dengan yang disyaratkan,
serta kondisi tiang pancang harus di jaga dan masih dalam kondisi baik.
6. Posisi sumbu hammer, tiang pancang dan topi baja harus lurus dalam satu garis
( di level / water pass dan unting-unting ).
7. Eksentrisitassumbu tersebut tidak boleh lebih dari 10 mm.

IX.2.2. PONDASI BORED PILE

Cara Pelaksanaan Bored Pile
Pertama-tama tanah di bor dengan diameter sesuai dengan perencanaan.
Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan, ujung pengeboran dibuat menggelem-
bung dengan tujuan memperluas tumpuan.
Selesai pengeboran penulangan dimasukkan, dan dilanjutkan pengecoran (dengan
tremi)
Yang perlu diperhatikan dalam pondasi Bored Pile adalah Volume beton yang masuk
adalah minimum sama dengan volume galian teoritis.

Keuntungan :
Teknologinya tidak terlalu rumit ( mudah dikerjakan )
biaya tidak telalu mahal

Kerugian :
Dinding galian sulit dimonitor masalah kelongsorannya.
Gelembung diujung pengeboran sulit dimonitor bentuk dan volumenya.
Site akan menjadi sangat becek sekali oleh sirkulasi air yang dipakai untuk mengeluar-
kan lumpur.
Mutu beton akan sangat dipengaruhi oleh lumpur dalam lobang galian.

DATA TEKNIS BORED PILE :

1. Kemampuan : Bor kecil : 30 – 60 cm.
: Crane s/d 2,00 m.

2. Kedalaman K : 5.00 m – 40.00 m
B : s/d ± 60.00 m
3. Kapasitas / kecepatan : volume beton ± 4 m3 / unit mesin bor.
4. Lumpur bar; alami ; lempung ; bentonite bila dibutuhkan kekentalan lebih untuk menahan
longsoran.
5. Menara bor : k = 2.00 m x 4.00 m ; h = 6.00 – 9.00 m.
6. Pipa Tremie : Besi diameter 6″ ; medium @ 3.00 m.
7. Corong cor : diameter 40 cm disambung ke pipa tremie.
8. Casing permukaan : sesuai bak, bila dibutuhkan untuk mencegah kelongsoran.
9. Pembesian : sengkang spiral dengan decking = 5 cm.
10. Pembuatannya dibuat dengan < 5 cm dari spec untuk pemelaran.
11. Sebelum pengecoran lubang bor harus dicuci dari lumpur.
12. Jika pembesian > 12 m, penyambungan dengan las, diameter tulangan dipertahan-
kan dengan memasang 16 melintang.
13. Setelah lubang dibersihkan harus langsung dicor sampai selesai.
14. Pengecoran awal harus hati-hati, supaya beton sedikit mungkin bercampur dengan
lumpur, digunakan kantong plastik yang diisi dengan adukan beton dan dimasukkan
ke dalam lubang bor, ditahan dulu sampai tenaga cor siap untuk dilakukan pengecoran
secepatnya secara kontinue (lihat gambar).
15. Bila adukan beton tidak dapat lagi mengalir kedalam pipa tremie, maka dilakukan
hentakan-hentakan, pipa tremie tidak boleh terlepas dari permukaan beton minimal
terendam ± 1.00 m dari permukaan adukan beton.
16. Corong dijaga jangan sampai kosong, harus terus diisi dengan adukan beton.
17. Pipa tremie dapat dilepas setiap 3.00 m naik.
18. Pencoran dapat dihentikan bila adukan beton yang naik di permukaan dan tumpah
dari luabang bor telah bersih dari campuran lumpur.
19. Setelah kering harus ada pemotongan beton sampai dengan beton yang sesuai sengan
karakteristik spec : ± 0.50 – 1.00 m.

Gambar pengecoran Bored Pile

Posisi awal pencoran Posisi ujung bawah tremie

IX.2.3. SUMURAN

Pondasi Sumuran dipakai untuk tanah keras
Cara Pelaksanaan Pondasi Sumuran sebagai berikut :
Pertama-tama kita gali tanah sambil menurunkan buis beton (bahan lain sesek bambu)
Setelah galian sesuai dengan rencana maka tulangan kita turunkan (bila ada)
dilanjutkan dengan pengecoran beton cyclop (beton mutu sedang dicampur dengan
batu belah)
Keuntungannya : Teknologinya tidak terlalu rumit ( mudah dikerjakan )
biaya tidak telalu mahal
Kelemahannya : Hanya bisa dipakai untuk tanah dengan daya dukung tinggi

IX.2.4. FOOT PLAT SETEMPAT DAN MENERUS

IX.2.4. 1. FOOT PLAT SETEMPAT

- Jenis pondasi foot plat ini yang sering dipakai di lapangan, dan cara pelaksanaanya
tidak terlalu sulit.
– Pertama-tama tanah di gali sesuai dengan perencanaan
– Setelah selesai galian, maka dilanjutkan dengan pekerjaan lantai kerja, jika tidak ada
perbaikan tanah.
Untuk tanah yang lunak, jika ada perbaikan tanah maka sebelum lantai kerja kita lakukan
perbaikan tanah dulu. Perbaikan tanah bisa dengan cara mengganti tanah lumpur dengan
sirtu atau dengan cerucuk bambu (dolken).
– Pembesian foot plat dan kolom bisa dikerjakan, jika lantai kerja telah kering.
– Begesting foot plat di pasang, kemudian pengecoran foot plat dilaksanakan.
– Dilanjutkan dengan begesting kolom pondasi dan diteruskan pengecoran

Sketsa pekerjaan foot plat (tanpa perbaiakan tanah)

Sketsa pekerjaan foot plat (dengan perbaiakan tanah)

IX.2.4. 2. FOOT PLAT SETEMPAT

- Jenis pondasi foot plat menerus ini dipakai jika dimensi foot plat setempat terlalu luas.
Maka untuk memenuhi luasan, dipakai foot plat setempat.
Untuk menambah kekakuan foot plat menerus, maka dipakai rib.
– Sama dengan pondasi foot plat setempat, pertama-tama tanah di gali sesuai dengan
perencanaan.
– Setelah selesai galian, maka dilanjutkan dengan pekerjaan lantai kerja, jika tidak ada
perbaikan tanah.
Untuk tanah yang lunak, jika ada perbaikan tanah maka sebelum lantai kerja kita lakukan
perbaikan tanah dulu. Perbaikan tanah bisa dengan cara mengganti tanah lumpur dengan
sirtu atau dengan cerucuk bambu (dolken).
– Pembesian foot plat, rib dan kolom bisa dikerjakan, jika lantai kerja telah kering.
– Begesting foot plat dan rib di pasang, kemudian pengecoran foot plat dan rib dilaksanakan.
– Dilanjutkan dengan begesting kolom pondasi dan diteruskan pengecoran

sketsa pondasi foot plat menerus

 

 

BAB X PEKERJAAN FINISHING

BAB X
PEKERJAAN FINISHING

X.1. PEKERJAAN PENGECATAN

Cat adalah bahan campuran yang terdiri dari bahan pengikat, pigmen (pewarna)
dan pelarut. Campuran ini akan membentuk lapisan tipis, padat dan kering, (setelah lapi-
san pelarutnya menguap).
Fungsi yaitu memberi perlindungan bahan atau material dari keausan karena pengaruh
udara, matahari, air & jamur. Disamping juga memberikan nuansa keindahan kenyama -
nan juga kesejukan.
Cat dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu Interior (dalam) dan Exterior (luar), untuk
Exterior harus memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap pengaruh cuaca ataupun
jamur. Pelaksanaan pekerjaan dapat dilaksanakan dengan kuas, roller ataupun dengan
semprot.

X.1.1. JENIS CAT

Cat terdiri dari 2 (dua) jenis : – Water base ( campuran air )
– Oil base ( campuran minyak )
Penggunaan tergantung dari bahan yang akan dikerjakan dan dilapisi cat serta janis cat
yang digunakan dan dapat juga dari bahan cat yang akan digunakan.
Perbedaan antara cat murah dan cat mahal :

Cat mahal Cat murah

- Kental – encer
– Membuat lapisan/film coating – Hanya menempel pada permukaan
pada permukaan tembok tembok.
– Kalau dicuci, cat tetap menempel – kalau dicuci cat akan hilang
– Warna tahan lama – Warna pudar
– Daya tutup baik – Daya tutup kurang.

X.1.2. METODE PELAKSANAAN :

A. CAT DINDING / PLAFOND
1. Persiapkan bahan bahan yang akan digunakan, seperti :
Amplas, gerenda mesin, kain lap, lem Fox, PC putih, kuas/rooler/alat semprot, skrap
elastis, air bersih, bahan cat, ember tempat cat.
2. Bidang yang akan dicat harus dalam keadaan bersih dan kering
3. Permukaan diratakan/dihaluskan dengan amplas atau gerenda mesin, sampai di-
dapatkan permukaan yang halus.
4. Bersihkan sisa amplas dengan kain lap dan buat bahan plamur seperti tabel
berikut :

1 lem : 3 PC
1 lem : 3 Mill halus
1 lem : 3 Kapur dempul
1 Addibond : 3 PC
1 Addibond : 3 Mill halus
1 Addibond : 3 Kapur dempul
1 lem : 1 PC : 3 Mill halus

Perbedaan secara ekonomis :

1 lem : 3 PC
– Cepat kering
– Harus langsung habis
– Hasil bagus ,keras
– Harga (/Kg) : Rp 6250 + 360 = Rp 6610

1 lem : 3 Mill halus
– Lambat kering
– Dapat disimpan
– Hasil halus, rontok
– Harga (/Kg) : Rp 6250 + 400 = Rp 6650

1 lem : 3 Kapur dempul
– Lambat kering
– Dapat disimpan
– Hasil bagus, lentur
– Harga (/Kg) : Rp 6250 + 750 = Rp 7000

1 lem : 1 PC : 3 Mill halus
– Cepat kering
– Harus langsung habis
– Hasil bagus ,halus, keras
– Harga (/Kg) : Rp 6250 + 360 + 400 = Rp 7010

* bahan yang dianjurkan 1 Lem : 1 PC : 3 Mill halus
Boncrete

Dan campurkan warna cat yang diinginkan secukupnya, sekaligus untuk cat dasar.
Aduk sampai rata.
Untuk Exterior sebaiknya dilapisi dengan cat dasar Alkali atau tidak diplamur agar
tahan terhadap cuaca, atau gunakan jenis cat Wheather Shield.
5. Oleskan bahan plamur pada permukaan bidang dengan menggunakan skrap
elastis,agar pori-pori permukaan tertutup dan rata. Arah Olesan plamur harus satu
arah agar rapi dan jangan sampai merusak sponengan dan menutup tali air plesteran.
6. Tunggu sampai kering dan amplas kembali, agar permukaan dan sisa olesan
plamur rata.
7. Kontrol pekerjaan plamur secermat mungkin, bila masih ada bagian yang lubang/
cekung segera plamur ulang dan bila ada bagian yang menggelombang diamplas
kembali atau gunakan gerenda mesin.
8. Siapkan bahan cat sesuai warna yang diinginkan. Bahan cat, (untuk cat 1 x) diencer-
kan dengan air bersih sampai 30 % dan aduk sampai rata.

9. Pengecatan dapat menggunakan kuas/roller atau semprot dan dilaksanakan sapu-
an satu arah (vertikal atau horisontal).
10. Ulangi pengecatan ulang bila cat pertama sudah kering.
11. Pengecatan ulang yang ke 2 diencerkan dengan air 20 %.
Pengecatan ke 3 diencerkan dengan air sampai 20 %.
12. Bila telah selesai bersihkan sisa percikan cat yang jatuh dengan lap basah, dan
bersihkan kuas/roller/semprot dengan air bersih serta simpan cat pada tempat se-
juk dan kering.

No. MACAM PLAMUR CAT
1. Tembok Luar – Alkali – Weathershield
– Bondcrete + air 25 %
– Cat = 6,00 m2/Kg
Dalam – 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Cat mutu sedang
( sebaiknya tanpa plamur ) + air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg
2. Gypsum – sambungan dengan – Cat mutu sedang
compound gypsum + air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg
3. Plywood – cat minyak (tdk harus) – Cat mutu sedang
– 1 lem : 1 PC : 3 Mill + air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg
4. A s b e s – plamur encer – Cat mutu sedang
+ air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg
5. G R C – plamur encer – Cat mutu sedang
+ air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg

CATATAN :
– Untuk bagian sudut campuran air pada bahan cat prosentase air lebih sedikit
± 15 – 20 % , karena untuk memudahkan pelaksanaan dan mencegah terjadinya
perbedaan warna, bila pengecatan dengan sistem roll.
– 1 kg cat putih = 4,00 m2
– 1 kg cat warna cerah = 4,00 m2 tergantung merek.
– 1 kg cat warna muda = 4,00 m2
– Pelaksanaan dapat dilakukan dengan kuas, roll & semprot.
Kuas = 4,50 – 5,00 m2/Kg
Roll = 4,00 m2/Kg
Semprot = 5,00 – 6,00 m2/Kg

MASALAH YANG TIMBUL

MASALAH PENYEBAB TINDAKAN

1. Bercak-bercak – Perembesan uap – Amplas habis
atau garam kedalam – Ulaskan bahan sealer
tembok – Plamur ulang mutu yg baik
– Dinding saat di cat – Cat ulang mutu yg baik
basah

MASALAH PENYEBAB TINDAKAN

2. Terkelupas – Plamur kwalitas jelek – Amplas habis
(Flaking) – Permukaan dinding – Ganti bahan plamur yang baik
kurang bersih – Cat ulang

3. Jamur / lumut – Penetrasi air dalam – Perbaikan plesteran dinding
cukup besar mungkin ada retak/mutu
plesteran jelek

4. Daya tutup kurang – Campuran air terlalu – Campuran air sesuai
baik banyak kebutuhan
– Cat murah – Ganti mutu cat

5. Menggelembung – Dinding belum kering – Amplas habis
(Blistering) – Biarkan dinding kering
– Ulaskan bahan sealer
– Plamur + cat mutu baik

6. Perubahan warna – Pigmen cat berubah – Cat ulang
karena cuaca, jamur
garam, asam dan
cairan pembersih/sabun

7. Berkerut – Lapisan cat sudah tua – Amplas habis
– Pelapis cat lebih cepat – Cat ulang
kering daripada lapis -
an dasarnya

8. Cissing – permukaan mengan – – Bersihkan dengan air sabun
( cat tdk menempel) dung minyak – Cat ulang

B. CAT MINYAK

1. Persiapkan bahan-bahan yang akan digunakan seperti Kain kering, amplas, meni,
plamur /dempul, kuas/ semprot, cat.
2. Bidang yang akan dicat harus dalam keadaan kering dan bersih, amplas permuka-
an sampai rata dan halus atau gunakan amplas mesin.
3. Persiapkan cat meni dengan campuran 1 Afduner : 2 cat meni, dan kuaskan cat
meni agar pori-pori kayu terisi.
4. Tunggu sampai kering dan plamurlah bidang agar permukaan yang cekung terisi
serta rata.
5. Haluskan dengan amplas atau gerenda mesin setelah plamur kering, ulangilah pe-
kerjaan plamur dan pengamplasan sampai didapatkan permukaan yang rata dan
halus.
6. Bersihkan permukaan dengan kain kering dan pekerjaan Cat dilaksanakan dengan
campuran 1 tinner : 2 cat, bila menggunakan sistem semprot campuran memakai
1,5 tenner : 2 cat. Ulangi pelaksanaan 2 – 3 kali. Pengulangan pengecatan dilaksa-
nakan setelah 24 jam.

7. Untuk mendapatkan hasil yang halus, bila perlu hasil cat digosok dengan compound
dan oleskan bahan pengkilap agar warna terlihat cerah.
8. Bila telah selesai bersihkan kuas/semprot dengan tenner serta simpan cat pada
tempat sejuk dan kering.

No. MACAM PLAMUR CAT

1. Tembok – 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Cat + tinner B
– Cat = 4,00 m2/Kg

2. Gypsum – Tanpa plamur – Cat + tinner B
– Cat = 4,00 m2/Kg

3. Plywood – cat minyak (tdk harus) – Cat + tinner B
– 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Cat = 4,00 m2/Kg

4. A s b e s – Plamur encer – Cat + tinner B
– Cat = 4,00 m2/Kg

5. G R C – Plamur encer – Cat + tinner B
– Cat = 4,00 m2/Kg

6. B e s i – meni besi (alkyd) – Cat + tinner B
– dempul plastik – Cat = 4,00 m2/Kg

7. K a y u – meni kayu (alkyd) – Cat + tinner B
– 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Cat = 4,00 m2/Kg
– retan siller ( anti getah)
( tdk harus)
– cat minyak (tdk harus)

CATATAN :
– Afduneer digunakan sebagai pelarut meni.
– Afduneer jangan digunakan untuk pelarut cat, karena hasil tidak memenuhi syarat
( warna busam & tidak cerah).
– Tineer mutu A digunakan sebagai pelarut untuk mutu terbaik, agar dihasilkan mutu
yang baik dan warna cat cerah serta tahan lama.
– Tineer mutu B digunakan sebagai pelarut untuk mutu sedang agar dihasilkan mutu
yang baik dan warna cat cerah .
– Pelaksanaan dapat dilakukan dengan kuas, roll & semprot.
Kuas = 3,50 m2/Kg
Roll = 3,00 m2/Kg
Semprot = 4,00 – 5,00 m2/Kg

C. D U C O

1. Persiapkan bahan – bahan yang akan digunakan seperti Kain kering, amplas,
amplas halus, tenner super, retan siller (anti getah), hardener (pengeras), Meni
dempul plastik , cat.
2. Bersihkan permukaan bidang dengan kain kering dan amplas sampai halus, bila
perlu gunakan mesin amplas.

Pada bidang besi / baja tujuan untuk menghilangkan permukaan besi/baja dari
karat.
3. Semprotkan retan siller (anti getah) + hardener + tenner sampai rata, perbandingan
1 : 0,5 : 0,5 (untuk bidang kayu) .
Tunggu sampai kering ( 24 jam ) dan haluskan dengan amplas atau gerenda
mesin. Ulangilah pekerjaan tersebut sampai didapatkan hasil yang diinginkan.
4. Bersihkan permukaan bidang dan semprotkan Epoxy ( cat dasar ) + tenner
dengan perbandingan 2 : 1
Tunggu sampai kering dan amplas agar permukaan halus. Bila didapatkan permu-
kaan yang cekung, harus diratakan dengan dempul plastik dan diamplas kem-
bali sampai rata, serta pengecatan cat dasar diulangi lagi untuk bagian yang tidak
rata saja
5. Untuk lapisan terakhir atau top coat gunakan perbandingan 1 ltr cat + hardener : 2
tenner, aduk sampai rata dan semprotkan, tunggu sampai 24 jam agar kering
dan amplas kembali.
Ulangi pekerjaan Top Coat sampai di dapatkan hasil yang baik.
6. Untuk mendapatkan hasil yang halus, bila perlu hasil cat digosokkan dengan
compound dan oleskan bahan pengkilap agar warna terlihat cerah.
7. Bila telah selesai bersihkan alat semprot dengan tenner serta simpan cat pada
pada tempat sejuk dan kering.

No. MACAM PLAMUR CAT

1 B e s i – meni besi – Cat + Hardener
– dempul plastik + tenner super
– ( cat dasar / pelindung) – Cat = 4,00 m2/Kg

2 K a y u – meni kayu – Cat + Hardener
– retan siller ( anti getah) + tenner super
( tdk harus) – Cat = 4,00 m2/Kg
– dempul plastik
– ( cat dasar / pelindung)

CATATAN :
– Untuk pekerjaan bidang besi diperhatikan :
1. Pembersihan karat dan kerak besi dengan cara :
– amplas/gerenda
– dibersihkan dengan asam sulphate, dan asam phosphate.
– dipanaskan dengan nyala api tinggi.
2. Pemberian lapis lindung / primer

BAHAN LAPIS LINDUNG

- Besi Alkyd Primer (syncromate)
– Baja Alkyd Primer
– Galvanis, seng Vinyl etch primer
– Almunium Vinyl etch primer
– Tembaga tidak dicat (Vinyl etch primer)
– Kuningan tidak dicat (Vinyl etch primer)
– Perunggu tidak dicat (Vinyl etch primer)

3. Keuntungan & kerugian Lapis Lindung

J E N I S KEUNTUNGAN KERUGIAN PENGGUNAAN
DI DAERAH

ALKYD mudah diaplikasi cepat pudar agresivitas lingk. rendah
mudah dicat warna cepat luntur konstruksi besi/baja
ketebalan rendah

VINYL tahan asam persiapan maks. agresivitas lingk. sedang
mudah dicat ulang harus spray konstruksi besi/baja
tahan air tahan panas Pabrik kimia
fleksibilitas tidak tahan solvent

EPOXY tahan alkali 2 komponen agresivitas lingk. tinggi
tahan air laut penggunaan diluar daerah lembab
tahan abrasi/garam akan mengapur Pabrik kimia
ketebalan tinggi mudah dicat ulang
warna tetap

CHLORINA tahan kimia tahan solvent agresivitas lingk. tinggi
TED RUBBER tahan panas daerah asam
mudah dicat ulang warna mudah pudar
tahan air masa penggunaan tangki air
1 komponen konstruksi besi

POLYURETHANE 2 komponen agresivitas lingk. sangat
tahan asam masa penggunaan tinggi
tahan abrasi peralatan transport
tahan air
tahan solvent
warna stabil
daya kilap tetap

D. P O L I T U R

1. Persiapkan bahan-bahan yang akan digunakan seperti Kain kering, kain kaos
amplas halus, lem fox, kapur, lilin, batu apung import, spiritus, serlak hindia, serlak
putih, kuas.
2. Bersihkan permukaan kayu dengan kain kering dan amplas sampai halus, bila
perlu gunakan mesin amplas.
3. Persiapkan bahan kapur dempul dengan perbandingan 1 lem : 3 kapur dan kuas-
kan pada permukaan kayu, dilanjutkan dengan menggosok permukaan kayu me -
makai batu grenda apung agar pori-pori kayu terisi dan tertutup.
4. Tunggu sampai kering dan haluskan dengan amplas atau gerenda mesin, setelah
itu ulangilah pekerjaan tersebut sampai didapatkan hasil yg diinginkan.
5. Bersihkan permukaan dengan kain kering dan pekerjaan plitur dapat dilaksanakan
dengan perbandingan 1 ltr :spiritus : 1 ons serlak India + bahan pewarna yang dii-
nginkan. Pelaksanaan plitur dioleskan dan ditekan memakai kain kaos.

6. Pekerjaan plitur dilaksanakan lapis demi lapis dengan diikuti pengamplasan kem-
bali, bila ditemukan kayu yang cekung/cacat didempul lagi dengan kapur dempul.
Pengulangan plitur dilaksanakan setelah plituran sebelumnya kering,minimal dilak-
sanakan 3 kali.
7. Untuk lapisan terakhir digunakan plitur serlak putih dan digosok sampai meng-
kilap, dilaksanakan 2 sampai 3 kali.

No. MACAM PLAMUR PLITUR
1 K a y u – 1 lem : 3 Kapur dempul – Plitur
– gosok dengan batu apung 1 lt Sp : 1 Ons slk
+ pewarna
dilaksanakan 3 x
– Plitur penutup
1 lt Sp : 1 Ons slk
putih + pewarna

CATATAN :
– Dilaksanakan dengan sisitem oles & tekan memakai kain kaos.
– Untuk hasil yang baik 1 ltr plitur = 3,00 m2.
– Plitur dilaksanakan pada bahan kayu jati
– Bila dilaksanakan pada kayu kamper / kruing sebaiknya menggunakan bahan
sekualitas Mowilex water base.

E. M E L A M I N

1. Persiapkan bahan-bahan yang akan digunakan seperti Kain kering, amplas halus,
batu apung, Wood Filler (pengisi), Wood Stain (pewarna),Tenner, kain kaos, Send-
ing siller, hardener/pengeras, Melamine.
2. Bersihkan permukaan kayu dengan kain kering dan amplas sampai halus, bila
perlu gunakan mesin amplas.
3. Oleskan Wood Filler (pengisi) dengan menggunakan kuas sampai rata.
4. Tunggu sampai kering dan haluskan dengan amplas atau gerenda mesin. Ulangi-
lah pekerjaan tersebut sampai didapatkan hasil yang diinginkan.
5. Bersihkan permukaan kayu dan semprotkan bahan wood stain (pewarna) untuk
mendapatkan warna yang diinginkan dengan perbandingan 1 tenner : 2 pewarna.
Ulangi pekerjaan tersebut sampai warna rata.
6. Semprotkan sending siller dengan perbandingan 0,1 ltr hardener : 0,4 ltr tinner : 0,9 ltr
sending siller.
Fungsi sending siller yaitu untuk meratakan permukaan kayu serta menutup pori-
pori kayu, sedangkan bahan hardener berfungsi untuk mengeraskan hasil siller
tersebut. Tunggu sampai kering dan amplas agar permukaan halus, bila hasil tidak
merata penyemprotan diulang pada bagian yang tidak rata saja dan amplas kem-
bali dengan amplas atau mesin amplas.
7. Untuk lapisan terakhir atau top coat gunakan perbandingan 0,1 ltr Hardener : 0,6 ltr
thinner : 0,9 ltr melamine aduk sampai rata dan semprotkan dengan merata, tunggu
sampai 24 jam agar kering dan amplas kembali. Ulangi pekerjaan Top Coat sam-
pai di dapatkan hasil yang baik. Untuk mendapatkan hasil yang cerah, bila perlu
hasil melamin digosok dengan bahan pengkilap misal KIT agar warna terlihat
cerah.
8. Bila telah selesai bersihkan alat semprot dengan tenner serta simpan cat pada
tempat sejuk dan kering.

No. MACAM PLAMUR CAT

1 K a y u – Wood Filler (pengisi) – Melamine
– Wood Stain (pewarna) 0,1 ltr Hardener :
1 tenner : 2 pewarna 0,6 tenner :
– Sending Siller 0,9 melamine :
0,1 ltr Hardener : 0,4 tenner : – cat = 3,00m2/ltr
0,9 Sending Siller

CATATAN :
– 1 Ltr Melamine = 3,00 m2
– Dilaksanakan dengan sistem semprot.

X.2. PEKERJAAN PELAPIS WALLPAPER

1. Persiapkan bahan-bahan yang akan digunakan seperti Kain, lem Sekualitas Goodrich,
skrap elastis, kuas ,wallpaper.
2. Bersihkan permukaan dinding dengan kain agar kotoran yang melekat pada dinding
hilang .
3. Persiapkan bahan wallpaper sesuai kebutuhan dinding yang akan dilapis, kuaskan lem
ada bagian belakang wallpaper dengan menggunakan kuas.
Pemberian lem harus rata pada semua permukaan diratakan dengan skrap elastis /
karet.
4. Perekatan wallpaper dengan dinding dilaksanakan hati-hati, dan dimulai dari atas ke
bawah. bila wallpaper sudah menempel pada dinding segera diratakan menggunakan
elastis, agar rongga-rongga udara dibawah wallpaper keluar dan didapatkan permukaan
yang rata.
5. Penyambungan walpaper satu dengan yang lainnya harus rapi dan tidak ada rongga.
6. Bila telah selesai bersihkan lantai dan skrap dari sisa lem dan kotoran lainnya.

No. MACAM PLAMUR WALPAPAER

1. Tembok baru – tanpa plamur – Wallpaper
(tembok rata) + lem
lama – 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Wallpaper
( perbaikan) + lem
2. Gypsum – tanpa plamur – Wallpaper
+ lem
3. Plywood – cat minyak – Wallpaper
– 1 lem : 1 PC : 3 Mill + lem
4. A s b e s – tanpa plamur – Wallpaper
+ lem
5. G R C – tanpa plamur – Wallpaper
+ lem

BAB X
PEKERJAAN FINISHING

X.1. PEKERJAAN PENGECATAN

Cat adalah bahan campuran yang terdiri dari bahan pengikat, pigmen (pewarna)
dan pelarut. Campuran ini akan membentuk lapisan tipis, padat dan kering, (setelah lapi-
san pelarutnya menguap).
Fungsi yaitu memberi perlindungan bahan atau material dari keausan karena pengaruh
udara, matahari, air & jamur. Disamping juga memberikan nuansa keindahan kenyama -
nan juga kesejukan.
Cat dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu Interior (dalam) dan Exterior (luar), untuk
Exterior harus memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap pengaruh cuaca ataupun
jamur. Pelaksanaan pekerjaan dapat dilaksanakan dengan kuas, roller ataupun dengan
semprot.

X.1.1. JENIS CAT

Cat terdiri dari 2 (dua) jenis : – Water base ( campuran air )
– Oil base ( campuran minyak )
Penggunaan tergantung dari bahan yang akan dikerjakan dan dilapisi cat serta janis cat
yang digunakan dan dapat juga dari bahan cat yang akan digunakan.
Perbedaan antara cat murah dan cat mahal :

Cat mahal Cat murah

- Kental – encer
– Membuat lapisan/film coating – Hanya menempel pada permukaan
pada permukaan tembok tembok.
– Kalau dicuci, cat tetap menempel – kalau dicuci cat akan hilang
– Warna tahan lama – Warna pudar
– Daya tutup baik – Daya tutup kurang.

X.1.2. METODE PELAKSANAAN :

A. CAT DINDING / PLAFOND
1. Persiapkan bahan bahan yang akan digunakan, seperti :
Amplas, gerenda mesin, kain lap, lem Fox, PC putih, kuas/rooler/alat semprot, skrap
elastis, air bersih, bahan cat, ember tempat cat.
2. Bidang yang akan dicat harus dalam keadaan bersih dan kering
3. Permukaan diratakan/dihaluskan dengan amplas atau gerenda mesin, sampai di-
dapatkan permukaan yang halus.
4. Bersihkan sisa amplas dengan kain lap dan buat bahan plamur seperti tabel
berikut :

1 lem : 3 PC
1 lem : 3 Mill halus
1 lem : 3 Kapur dempul
1 Addibond : 3 PC
1 Addibond : 3 Mill halus
1 Addibond : 3 Kapur dempul
1 lem : 1 PC : 3 Mill halus

Perbedaan secara ekonomis :

1 lem : 3 PC
– Cepat kering
– Harus langsung habis
– Hasil bagus ,keras
– Harga (/Kg) : Rp 6250 + 360 = Rp 6610

1 lem : 3 Mill halus
– Lambat kering
– Dapat disimpan
– Hasil halus, rontok
– Harga (/Kg) : Rp 6250 + 400 = Rp 6650

1 lem : 3 Kapur dempul
– Lambat kering
– Dapat disimpan
– Hasil bagus, lentur
– Harga (/Kg) : Rp 6250 + 750 = Rp 7000

1 lem : 1 PC : 3 Mill halus
– Cepat kering
– Harus langsung habis
– Hasil bagus ,halus, keras
– Harga (/Kg) : Rp 6250 + 360 + 400 = Rp 7010

* bahan yang dianjurkan 1 Lem : 1 PC : 3 Mill halus
Boncrete

Dan campurkan warna cat yang diinginkan secukupnya, sekaligus untuk cat dasar.
Aduk sampai rata.
Untuk Exterior sebaiknya dilapisi dengan cat dasar Alkali atau tidak diplamur agar
tahan terhadap cuaca, atau gunakan jenis cat Wheather Shield.
5. Oleskan bahan plamur pada permukaan bidang dengan menggunakan skrap
elastis,agar pori-pori permukaan tertutup dan rata. Arah Olesan plamur harus satu
arah agar rapi dan jangan sampai merusak sponengan dan menutup tali air plesteran.
6. Tunggu sampai kering dan amplas kembali, agar permukaan dan sisa olesan
plamur rata.
7. Kontrol pekerjaan plamur secermat mungkin, bila masih ada bagian yang lubang/
cekung segera plamur ulang dan bila ada bagian yang menggelombang diamplas
kembali atau gunakan gerenda mesin.
8. Siapkan bahan cat sesuai warna yang diinginkan. Bahan cat, (untuk cat 1 x) diencer-
kan dengan air bersih sampai 30 % dan aduk sampai rata.

9. Pengecatan dapat menggunakan kuas/roller atau semprot dan dilaksanakan sapu-
an satu arah (vertikal atau horisontal).
10. Ulangi pengecatan ulang bila cat pertama sudah kering.
11. Pengecatan ulang yang ke 2 diencerkan dengan air 20 %.
Pengecatan ke 3 diencerkan dengan air sampai 20 %.
12. Bila telah selesai bersihkan sisa percikan cat yang jatuh dengan lap basah, dan
bersihkan kuas/roller/semprot dengan air bersih serta simpan cat pada tempat se-
juk dan kering.

No. MACAM PLAMUR CAT
1. Tembok Luar – Alkali – Weathershield
– Bondcrete + air 25 %
– Cat = 6,00 m2/Kg
Dalam – 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Cat mutu sedang
( sebaiknya tanpa plamur ) + air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg
2. Gypsum – sambungan dengan – Cat mutu sedang
compound gypsum + air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg
3. Plywood – cat minyak (tdk harus) – Cat mutu sedang
– 1 lem : 1 PC : 3 Mill + air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg
4. A s b e s – plamur encer – Cat mutu sedang
+ air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg
5. G R C – plamur encer – Cat mutu sedang
+ air 30 %
– Cat = 4,00 m2/Kg

CATATAN :
– Untuk bagian sudut campuran air pada bahan cat prosentase air lebih sedikit
± 15 – 20 % , karena untuk memudahkan pelaksanaan dan mencegah terjadinya
perbedaan warna, bila pengecatan dengan sistem roll.
– 1 kg cat putih = 4,00 m2
– 1 kg cat warna cerah = 4,00 m2 tergantung merek.
– 1 kg cat warna muda = 4,00 m2
– Pelaksanaan dapat dilakukan dengan kuas, roll & semprot.
Kuas = 4,50 – 5,00 m2/Kg
Roll = 4,00 m2/Kg
Semprot = 5,00 – 6,00 m2/Kg

MASALAH YANG TIMBUL

MASALAH PENYEBAB TINDAKAN

1. Bercak-bercak – Perembesan uap – Amplas habis
atau garam kedalam – Ulaskan bahan sealer
tembok – Plamur ulang mutu yg baik
– Dinding saat di cat – Cat ulang mutu yg baik
basah

MASALAH PENYEBAB TINDAKAN

2. Terkelupas – Plamur kwalitas jelek – Amplas habis
(Flaking) – Permukaan dinding – Ganti bahan plamur yang baik
kurang bersih – Cat ulang

3. Jamur / lumut – Penetrasi air dalam – Perbaikan plesteran dinding
cukup besar mungkin ada retak/mutu
plesteran jelek

4. Daya tutup kurang – Campuran air terlalu – Campuran air sesuai
baik banyak kebutuhan
– Cat murah – Ganti mutu cat

5. Menggelembung – Dinding belum kering – Amplas habis
(Blistering) – Biarkan dinding kering
– Ulaskan bahan sealer
– Plamur + cat mutu baik

6. Perubahan warna – Pigmen cat berubah – Cat ulang
karena cuaca, jamur
garam, asam dan
cairan pembersih/sabun

7. Berkerut – Lapisan cat sudah tua – Amplas habis
– Pelapis cat lebih cepat – Cat ulang
kering daripada lapis -
an dasarnya

8. Cissing – permukaan mengan – – Bersihkan dengan air sabun
( cat tdk menempel) dung minyak – Cat ulang

B. CAT MINYAK

1. Persiapkan bahan-bahan yang akan digunakan seperti Kain kering, amplas, meni,
plamur /dempul, kuas/ semprot, cat.
2. Bidang yang akan dicat harus dalam keadaan kering dan bersih, amplas permuka-
an sampai rata dan halus atau gunakan amplas mesin.
3. Persiapkan cat meni dengan campuran 1 Afduner : 2 cat meni, dan kuaskan cat
meni agar pori-pori kayu terisi.
4. Tunggu sampai kering dan plamurlah bidang agar permukaan yang cekung terisi
serta rata.
5. Haluskan dengan amplas atau gerenda mesin setelah plamur kering, ulangilah pe-
kerjaan plamur dan pengamplasan sampai didapatkan permukaan yang rata dan
halus.
6. Bersihkan permukaan dengan kain kering dan pekerjaan Cat dilaksanakan dengan
campuran 1 tinner : 2 cat, bila menggunakan sistem semprot campuran memakai
1,5 tenner : 2 cat. Ulangi pelaksanaan 2 – 3 kali. Pengulangan pengecatan dilaksa-
nakan setelah 24 jam.

7. Untuk mendapatkan hasil yang halus, bila perlu hasil cat digosok dengan compound
dan oleskan bahan pengkilap agar warna terlihat cerah.
8. Bila telah selesai bersihkan kuas/semprot dengan tenner serta simpan cat pada
tempat sejuk dan kering.

No. MACAM PLAMUR CAT

1. Tembok – 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Cat + tinner B
– Cat = 4,00 m2/Kg

2. Gypsum – Tanpa plamur – Cat + tinner B
– Cat = 4,00 m2/Kg

3. Plywood – cat minyak (tdk harus) – Cat + tinner B
– 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Cat = 4,00 m2/Kg

4. A s b e s – Plamur encer – Cat + tinner B
– Cat = 4,00 m2/Kg

5. G R C – Plamur encer – Cat + tinner B
– Cat = 4,00 m2/Kg

6. B e s i – meni besi (alkyd) – Cat + tinner B
– dempul plastik – Cat = 4,00 m2/Kg

7. K a y u – meni kayu (alkyd) – Cat + tinner B
– 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Cat = 4,00 m2/Kg
– retan siller ( anti getah)
( tdk harus)
– cat minyak (tdk harus)

CATATAN :
– Afduneer digunakan sebagai pelarut meni.
– Afduneer jangan digunakan untuk pelarut cat, karena hasil tidak memenuhi syarat
( warna busam & tidak cerah).
– Tineer mutu A digunakan sebagai pelarut untuk mutu terbaik, agar dihasilkan mutu
yang baik dan warna cat cerah serta tahan lama.
– Tineer mutu B digunakan sebagai pelarut untuk mutu sedang agar dihasilkan mutu
yang baik dan warna cat cerah .
– Pelaksanaan dapat dilakukan dengan kuas, roll & semprot.
Kuas = 3,50 m2/Kg
Roll = 3,00 m2/Kg
Semprot = 4,00 – 5,00 m2/Kg

C. D U C O

1. Persiapkan bahan – bahan yang akan digunakan seperti Kain kering, amplas,
amplas halus, tenner super, retan siller (anti getah), hardener (pengeras), Meni
dempul plastik , cat.
2. Bersihkan permukaan bidang dengan kain kering dan amplas sampai halus, bila
perlu gunakan mesin amplas.

Pada bidang besi / baja tujuan untuk menghilangkan permukaan besi/baja dari
karat.
3. Semprotkan retan siller (anti getah) + hardener + tenner sampai rata, perbandingan
1 : 0,5 : 0,5 (untuk bidang kayu) .
Tunggu sampai kering ( 24 jam ) dan haluskan dengan amplas atau gerenda
mesin. Ulangilah pekerjaan tersebut sampai didapatkan hasil yang diinginkan.
4. Bersihkan permukaan bidang dan semprotkan Epoxy ( cat dasar ) + tenner
dengan perbandingan 2 : 1
Tunggu sampai kering dan amplas agar permukaan halus. Bila didapatkan permu-
kaan yang cekung, harus diratakan dengan dempul plastik dan diamplas kem-
bali sampai rata, serta pengecatan cat dasar diulangi lagi untuk bagian yang tidak
rata saja
5. Untuk lapisan terakhir atau top coat gunakan perbandingan 1 ltr cat + hardener : 2
tenner, aduk sampai rata dan semprotkan, tunggu sampai 24 jam agar kering
dan amplas kembali.
Ulangi pekerjaan Top Coat sampai di dapatkan hasil yang baik.
6. Untuk mendapatkan hasil yang halus, bila perlu hasil cat digosokkan dengan
compound dan oleskan bahan pengkilap agar warna terlihat cerah.
7. Bila telah selesai bersihkan alat semprot dengan tenner serta simpan cat pada
pada tempat sejuk dan kering.

No. MACAM PLAMUR CAT

1 B e s i – meni besi – Cat + Hardener
– dempul plastik + tenner super
– ( cat dasar / pelindung) – Cat = 4,00 m2/Kg

2 K a y u – meni kayu – Cat + Hardener
– retan siller ( anti getah) + tenner super
( tdk harus) – Cat = 4,00 m2/Kg
– dempul plastik
– ( cat dasar / pelindung)

CATATAN :
– Untuk pekerjaan bidang besi diperhatikan :
1. Pembersihan karat dan kerak besi dengan cara :
– amplas/gerenda
– dibersihkan dengan asam sulphate, dan asam phosphate.
– dipanaskan dengan nyala api tinggi.
2. Pemberian lapis lindung / primer

BAHAN LAPIS LINDUNG

- Besi Alkyd Primer (syncromate)
– Baja Alkyd Primer
– Galvanis, seng Vinyl etch primer
– Almunium Vinyl etch primer
– Tembaga tidak dicat (Vinyl etch primer)
– Kuningan tidak dicat (Vinyl etch primer)
– Perunggu tidak dicat (Vinyl etch primer)

3. Keuntungan & kerugian Lapis Lindung

J E N I S KEUNTUNGAN KERUGIAN PENGGUNAAN
DI DAERAH

ALKYD mudah diaplikasi cepat pudar agresivitas lingk. rendah
mudah dicat warna cepat luntur konstruksi besi/baja
ketebalan rendah

VINYL tahan asam persiapan maks. agresivitas lingk. sedang
mudah dicat ulang harus spray konstruksi besi/baja
tahan air tahan panas Pabrik kimia
fleksibilitas tidak tahan solvent

EPOXY tahan alkali 2 komponen agresivitas lingk. tinggi
tahan air laut penggunaan diluar daerah lembab
tahan abrasi/garam akan mengapur Pabrik kimia
ketebalan tinggi mudah dicat ulang
warna tetap

CHLORINA tahan kimia tahan solvent agresivitas lingk. tinggi
TED RUBBER tahan panas daerah asam
mudah dicat ulang warna mudah pudar
tahan air masa penggunaan tangki air
1 komponen konstruksi besi

POLYURETHANE 2 komponen agresivitas lingk. sangat
tahan asam masa penggunaan tinggi
tahan abrasi peralatan transport
tahan air
tahan solvent
warna stabil
daya kilap tetap

D. P O L I T U R

1. Persiapkan bahan-bahan yang akan digunakan seperti Kain kering, kain kaos
amplas halus, lem fox, kapur, lilin, batu apung import, spiritus, serlak hindia, serlak
putih, kuas.
2. Bersihkan permukaan kayu dengan kain kering dan amplas sampai halus, bila
perlu gunakan mesin amplas.
3. Persiapkan bahan kapur dempul dengan perbandingan 1 lem : 3 kapur dan kuas-
kan pada permukaan kayu, dilanjutkan dengan menggosok permukaan kayu me -
makai batu grenda apung agar pori-pori kayu terisi dan tertutup.
4. Tunggu sampai kering dan haluskan dengan amplas atau gerenda mesin, setelah
itu ulangilah pekerjaan tersebut sampai didapatkan hasil yg diinginkan.
5. Bersihkan permukaan dengan kain kering dan pekerjaan plitur dapat dilaksanakan
dengan perbandingan 1 ltr :spiritus : 1 ons serlak India + bahan pewarna yang dii-
nginkan. Pelaksanaan plitur dioleskan dan ditekan memakai kain kaos.

6. Pekerjaan plitur dilaksanakan lapis demi lapis dengan diikuti pengamplasan kem-
bali, bila ditemukan kayu yang cekung/cacat didempul lagi dengan kapur dempul.
Pengulangan plitur dilaksanakan setelah plituran sebelumnya kering,minimal dilak-
sanakan 3 kali.
7. Untuk lapisan terakhir digunakan plitur serlak putih dan digosok sampai meng-
kilap, dilaksanakan 2 sampai 3 kali.

No. MACAM PLAMUR PLITUR
1 K a y u – 1 lem : 3 Kapur dempul – Plitur
– gosok dengan batu apung 1 lt Sp : 1 Ons slk
+ pewarna
dilaksanakan 3 x
– Plitur penutup
1 lt Sp : 1 Ons slk
putih + pewarna

CATATAN :
– Dilaksanakan dengan sisitem oles & tekan memakai kain kaos.
– Untuk hasil yang baik 1 ltr plitur = 3,00 m2.
– Plitur dilaksanakan pada bahan kayu jati
– Bila dilaksanakan pada kayu kamper / kruing sebaiknya menggunakan bahan
sekualitas Mowilex water base.

E. M E L A M I N

1. Persiapkan bahan-bahan yang akan digunakan seperti Kain kering, amplas halus,
batu apung, Wood Filler (pengisi), Wood Stain (pewarna),Tenner, kain kaos, Send-
ing siller, hardener/pengeras, Melamine.
2. Bersihkan permukaan kayu dengan kain kering dan amplas sampai halus, bila
perlu gunakan mesin amplas.
3. Oleskan Wood Filler (pengisi) dengan menggunakan kuas sampai rata.
4. Tunggu sampai kering dan haluskan dengan amplas atau gerenda mesin. Ulangi-
lah pekerjaan tersebut sampai didapatkan hasil yang diinginkan.
5. Bersihkan permukaan kayu dan semprotkan bahan wood stain (pewarna) untuk
mendapatkan warna yang diinginkan dengan perbandingan 1 tenner : 2 pewarna.
Ulangi pekerjaan tersebut sampai warna rata.
6. Semprotkan sending siller dengan perbandingan 0,1 ltr hardener : 0,4 ltr tinner : 0,9 ltr
sending siller.
Fungsi sending siller yaitu untuk meratakan permukaan kayu serta menutup pori-
pori kayu, sedangkan bahan hardener berfungsi untuk mengeraskan hasil siller
tersebut. Tunggu sampai kering dan amplas agar permukaan halus, bila hasil tidak
merata penyemprotan diulang pada bagian yang tidak rata saja dan amplas kem-
bali dengan amplas atau mesin amplas.
7. Untuk lapisan terakhir atau top coat gunakan perbandingan 0,1 ltr Hardener : 0,6 ltr
thinner : 0,9 ltr melamine aduk sampai rata dan semprotkan dengan merata, tunggu
sampai 24 jam agar kering dan amplas kembali. Ulangi pekerjaan Top Coat sam-
pai di dapatkan hasil yang baik. Untuk mendapatkan hasil yang cerah, bila perlu
hasil melamin digosok dengan bahan pengkilap misal KIT agar warna terlihat
cerah.
8. Bila telah selesai bersihkan alat semprot dengan tenner serta simpan cat pada
tempat sejuk dan kering.

No. MACAM PLAMUR CAT

1 K a y u – Wood Filler (pengisi) – Melamine
– Wood Stain (pewarna) 0,1 ltr Hardener :
1 tenner : 2 pewarna 0,6 tenner :
– Sending Siller 0,9 melamine :
0,1 ltr Hardener : 0,4 tenner : – cat = 3,00m2/ltr
0,9 Sending Siller

CATATAN :
– 1 Ltr Melamine = 3,00 m2
– Dilaksanakan dengan sistem semprot.

X.2. PEKERJAAN PELAPIS WALLPAPER

1. Persiapkan bahan-bahan yang akan digunakan seperti Kain, lem Sekualitas Goodrich,
skrap elastis, kuas ,wallpaper.
2. Bersihkan permukaan dinding dengan kain agar kotoran yang melekat pada dinding
hilang .
3. Persiapkan bahan wallpaper sesuai kebutuhan dinding yang akan dilapis, kuaskan lem
ada bagian belakang wallpaper dengan menggunakan kuas.
Pemberian lem harus rata pada semua permukaan diratakan dengan skrap elastis /
karet.
4. Perekatan wallpaper dengan dinding dilaksanakan hati-hati, dan dimulai dari atas ke
bawah. bila wallpaper sudah menempel pada dinding segera diratakan menggunakan
elastis, agar rongga-rongga udara dibawah wallpaper keluar dan didapatkan permukaan
yang rata.
5. Penyambungan walpaper satu dengan yang lainnya harus rapi dan tidak ada rongga.
6. Bila telah selesai bersihkan lantai dan skrap dari sisa lem dan kotoran lainnya.

No. MACAM PLAMUR WALPAPAER

1. Tembok baru – tanpa plamur – Wallpaper
(tembok rata) + lem
lama – 1 lem : 1 PC : 3 Mill – Wallpaper
( perbaikan) + lem
2. Gypsum – tanpa plamur – Wallpaper
+ lem
3. Plywood – cat minyak – Wallpaper
– 1 lem : 1 PC : 3 Mill + lem
4. A s b e s – tanpa plamur – Wallpaper
+ lem
5. G R C – tanpa plamur – Wallpaper
+ lem

 

BAB XI PEKERJAAN M & E

BAB XI
PEKERJAAN M & E

XI.1. PLUMBING

Fungsi dan tujuan :
Menciptakan suatu bangunan yang memenuhi kesehatan dan sanitasi yang baik
dengan suatu sistem pemipaan yang dapat mengalirkan air bersih ketempat
tempat yang dituju dan membuang air kotor ke saluran pembuang tanpa mence -
mari bagian penting lainnya dengan tidak melupakan kenyamanan dan keindahan.

Sistem plumbing yang dikenal meliputi :
1. Saluran air bersih : – Saluran KM/WC
– Saluran Penampungan Air
– Saluran Pemadam Kebakaran

2. Saluran air kotor : – Saluran pembuangan dari KM/Wc
– Saluran pembuang air hujan
– Saluran Kotor WC ke Septictank

3. Saluran Gas dan udara

Bahan yang umum digunakan adalah dari besi/baja dengan lapisan galvanis, plastik, pvc,
porselin dan dari beton betulang.
Bahan harus memenuhi syarat tidak menyerap air, mudah dibersihkan, tidak berkarat atau
mudah aus.
Untuk instalasi air bersih maupun air kotor dalam bangunan kecuali instalasi air panas
biasa digunakan pipa PVC, pipa ini dapat dibagi (bila tidak ada spesifikasi khusus) :

1. Berdasarkan typenya ( ketebalan ) :
a. Type AW
Untuk pipa dengan kawalitas yang paling baik ( tebal ).
Biasanya digunakan untuk saluran air bersih / air minum yang mempunyai kekuatan
tekan yang cukup tinggi.
b. Type D
Untuk pipa kwalitas sedang dengan tebal medium.
Biasanya digunakan untuk saluran pembuang, seperti saluran air hujan, saluran pem-
buangan bekas cuci / mandi, saluran septictank, dsb.
c. Type C
Untuk pipa dengan kwalitas paling rendah (tipis).
Digunakan untuk sparing-sparing listrik yang tertanam dalam dinding.

2. Ukuran diameter penampang pipa.
a. Untuk saluran air bersih digunakan ukuran 1/2″, 3/4″, 1″, 1,5″.
b. Untuk saluran pembuang digunakan ukuran 1″, 1,5″ 2″, 3″, 4″, 5″.

Merek-merek yang di pasaran contohnya : Wavin, Rucika, Maspion, Pralon, Impralon, Dexlon.

XI.1.1. METODE PELAKSANAAN

A. Instalasi Air bersih :
1. Hal yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah denah Plumbing serta Diagram
Isometri dimana dapat diketahui jalur-jalur instalasi pipa itu diletakkan.
2. Pemasangan pipa dilaksanakan setelah pasangan bata dan sebelum pekerjaan
plesteran dan acian, fungsi untuk menghindari bobokan yang menyebabkan kere-
takan dinding. (Untuk instalasi dalam bangunan).
3. Untuk pemasangan di luar bangunan seperti pipa saluran air hujan dikerjakan
setelah pekerjaan plesteran diselesaikan.
4. Pipa yang melewati plat dak atau balok atau kolom beton harus dipasang sparing
atau pemipaan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan pengecoran.
5. Pipa yang posisi/letaknya sudah betul segera ditutup dengan plug/dop yang tidak
mudah lepas (menghindari kotoran/adukan masuk sehingga terjadi penyumbatan).
6. Hindari belokan pipa/ knik pipa dengan pembakaran.
7. Posisi pipa pada kamar mandi harus disesuaikan dengan saniter
8. Rencana instalasi air bersih diletakkan pada perempatan nat keramik / as
keramik, simetris dengan luas keramik.
9. Setelah instalasi terpasang segera diadakan test tekanan pipa :
– Untuk pipa Gip maximum 10 Bar
– Untuk pipa PVC maximum 6 Bar

B. Instalasi air Kotor
1. Hal yang perlu diketahui :
Denah instalasi dan diagram isometris pipa air kotor serta jalur pembuangan.
2. Hindari /jangan terlalu banyak percabangan.
3. Sambungan harus betul-betul rapat.
4. Untuk air bekas (mandi/cuci) harus dibuat Manhole untuk kontrol pembersihan (bak
kontrol) pada tempat-tempat tertentu.
5. Untuk lubang saluran pembuang harus diberi saringan.
6. Sparing harus melebihi rencana peil lantai beton & tebal beton.
( diatas plat = 25 cm, dibawah plat = 15 cm ), bagian atas supaya ditekuk atau
digepengkan / ditutup dengan cara dipanaskan.
7. Posisi sparing harus sesuai dengan type saniter (jika saniter telah ditentukan).
8. Jika saniter belum ditentukan , dipakai sistem Block Out.
9. Sparing Clean out harus dipasang bersamaan dengan sparing closet (bila ada), di -
mana letak sparing clean out berada di samping atau dekat dengan sparing closet,
fungsinya adalah untuk pembersihan apabila closet terjadi penyumbatan.
10. Fan out dipasang bila dalam instalasi saluran kotor banyak percabangan dengan
saluran pembuangannya lewat shaft. Fungsinya untuk mengurangi tekanan udara
pada pipa pada saat closet di gelontor dengan air.
11. Floor drain supaya diletakkan jauh dari pintu dan dekat dengan kurasan bak.

C. Saluran Air Hujan.
1. Pipa diletakkan persis dibawah lobang talang yang telah diberi torong talang.
2. Pipa saluran air hujan dapat dipasang menempel di dinding luar dengan mengguna-
klem atau dapat ditanam di dinding bila berukuran < 2 “.
3. Bila saluran pembuang air hujan berupa saluran tertutup harus dibuat bak kontrol pa-
da pertemuan pipa air hujan dengan saluran pembuang.
4. Bila terdapat sambungan, arah shock harus sebelah atas, dan penyambungannya
harus benar-benar kuat.

D. Saluran Pipa Wc ke Septictank
1. Pipa saluran dari closet menuju ke septictank harus diperhatikan kemiringannya, ka-
rena kemiringan pipa dapat memperlancar penyaluran kotoran apabila digelontor
dengan air, kemiringan minimal 2 %.
2. Pipa sebaiknya dipergunakan kwalitas yang baik atau minimal type D.
3. Jangan ada percabangan untuk pipa yang ditanam di tanah (bangunan 1 lantai), ka-
rena bila ada penyumbatan susah untuk perbaikannya.
Untuk bangunan bertingkat (ada shaft) harus dibuat clean out dan fan out.

XI.1.2. PENYAMBUNGAN PIPA

1. Alat : Gergaji
Amplas
Lem PVC
Shell tape
Kunci Pipa
2. Untuk pipa PVC, dipotong sesuai dengan ukuran ujungnya diamplas terlebih
dahulu dan dibersihkan oleskan lem pada ujung dan dalam shock (penyambung)
segera masukkan gerakan arah lurus jangan diputar, tunggu sampai kering.
Apabila belum kering betul posisi sambungan jangan digerakkan, karena akan
menyebabkan lem yang telah dioles menjadi tidak rekat.
3. Pada sambungan pipa yang mempunyai drat terlebih dulu dibungkus sheeltape
secukupnya pada drat sisi luar baru dimasukkan drat dalam dan diputar sampai
kencang dan rapat.
4. Pada penyambungan pipa besi lebih banyak dipakai sistem drat dan las.
Untuk penyenaian pipa minimum 4 baris/alur/drat.

XI.2. ELEKTRIKAL / PEKERJAAN LISTRIK

Pengertian dan fungsi :
Suatu sistem instalasi/jaringan yang meliputi penerangan, instalasi daya, box pembagi
tegangan.
Material penghantar listrik adalah kabel (NYM, NYY, NYF, NYA) serta pipa baik PVC
atau besi untuk pelindung hantaran yang tertanam.
Kabel penghantar yang biasa dipergunakan adalah merek KABELINDO, SUPREME,
TRANKA, dll. Merek dapat dikenali pada pembungkus (isolasi) sepanjang kabel beserta
jenis dan jumlah kawat atau diameter kawat tembaganya.

Peralatan dan bahan listrik :
1. Panel dan kotak pembagi
2. Saklar dan zekering-zekering
3. Alat-alat ukur (voltmeter & Ampre meter)
4. MCB
5. Stop kontak / stop kontak daya
6. Lampu penerangan
7. Grounding atau pentanahan

METODE PELAKSANAAN

1. Semua hantaran (kabel) yang ditarik dalam pipa / cabelduct harus diusahakan
tidak tampak dari luar (tertanam)
2. Pemasangan pipa harus dilaksanakan sebelum pengecoran.
Pemasangan sparing-sparing listrik yang melintas di plat, balok, kolom beton
harus dipasang terlebih dahulu sebelum pengecoran, kabel diusahakan dimasuk-
kan bersamaan dengan pemasangan sparing.
3. Pipa yang dipasang pada dinding dilaksanakan sebelum pekerjaan plesteran
dan acian dikerjakan.
4. Penempatan sambungan/percabangan harus ditempatkan di daerah yang mudah
dicapai untuk perbaikan (perawatan).
5. Sambungan harus menggunakan klem / isolasi kabel supaya terlindung dengan
baik sehingga tidak tersentuh atau menggunakan lasdop dan ditempatkan pada
Te Dos.
6. Lekukan/belokan pipa harus beradius > 3 kali diameter pipa dan harus rata (untuk
memudahkan penarikan kabel).
7. Jaringan arde harus dipasang tersendiri / terpisah dengan arde penangkal petir.
– tidak boleh ada sambungan
– dihubungkan dengan elektroda pentanahan
– ditanam sampai minimal mencapai air tanah
8. Pada hantaran di atas langit-langit, harus diklem pada bagian bawah plat / balok
atau pada balok kayu rangka langit-langit.
9. Untuk hantaran/tarikan kabel yang menyusur dinding bata/beton pada shaft harus
diklem atau dengan papan dan kabeltrey bila jaringan terlalu rumit (banyak).

10. Stop kontak dan saklar.
Pemasangan stop kontak setinggi > 40 cm dari lantai, saklar dipasang setinggi
150 cm dari lantai (bila tidak ditentukan spesifikasinya).
Pemasangan stop kontak dan saklar harus rata dengan dinding.
11. Box / kotak Panel bodynya harus diarde, untuk menghindari adanya arus.

XI.3. PENANGKAL PETIR KONVENSIONAL

Pengertian :
Instalasi yang terdiri dari komponen-komponen dan peralatan-peralatan, dan secara
keseluruhan berfungsi untuk menangkal petir, dan menyalurkannya ke tanah, yang di
pasang sedemikian rupa sehingga semua bagian dari bangunan beserta isinya, atau
benda-benda yang dilindungi terhindar dari sambaran petir.
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan dan memasang sistem
penangkal petir, antara lain :
– keamanan secara teknis
– penampang hantaran-hantaran pembumian (grounding)
– ketahanan mekanis
– ketahanan teradap korosi
– bentuk dan ukuran bangunan yang dilindungi.
– faktor ekonomis.

Bangunan yang perlu diberi penangkal petir adalah :
– Bangunan-bangunan tinggi, seperti gedung bertingkat, menara-menara, dan cerobong
cerobong pabrik.
– bangunan penyimpanan bahan yang mudah terbakar atau meledak seperti pabrik
amunisi, gudang penyimpanan bahan peledak, gas, cairan yang mudah terbakar.
– Bangunan umum seperti gedung pertunjukan, gedung sekolah, stasiun, dll.

Bagian – bagian dari sistem penangkal petir adalah sebagai berikut :
1. Penangkap Petir
2. Penghantar Penyalur Petir
3. Penyambung penghantar-penghantar
4. Komponen logam dekat Instalasi Penangkal Petir
5. Sistem Pembumian

XI.3. 1. Penangkap Petir (Speed)

Berupa batang pejal yang ujungnya runcing (Copper) dari tembaga, baja galvanis
atau dari alumunium, ukuran diameter minimum adalah 1/2 inch, panjang 1,5 – 2 m’.
Penangkap petir dipasang pada tempat-tempat yang ujungnya runcing seperti
bubungan atap, jurai, puncak menara, cerobong asap, atau pada bangunan yang
menonjol di atap.
Rumus praktis untuk bangunan dibawah 2 lantai atau tinggi maximum 10 m,dapat
dipakai rumus :

d = 3 t dimana : d = daerah yang dilindungi
t = tinggi speed ( max = 2 m’ )

t = max = 2 m

d max = d

XI.3.2. Penghantar Penyalur Petir
Adalah penghantar (Konduktor) dari tembaga dengan diameter minimal 8 mm atau
luas penampang 50 mm².
Setiap bangunan paling sedikit harus mempunyai dua buah penghantar peyalur
petir. Untuk bangunan dengan lebar lebih dari 12 meter (lebar atap bangunan) di-
perlukan paling sedikit 4 buah penghantar penyalur petir.
Penghantar penyalur petir utama sedapat mungkin simetris dengan denah dasar
bangunan. Penghantar tidak boleh diletakkan di dalam pipa talang air hujan.

25 25

XI.3.3. Penyambung penghantar-penghantar

Adalah penyambungan antar penghantar penyalur atau antar penghantar penya-
lur dengan pentanahan, atau penyalur dengan penangkap petir, antara penghan-
tar pembumian dengan elektroda pembumian.
Penyambungan harus kuat, tahan lama dan tahan terhadap pengaruh elektris dan
mekanis.
Penyambungan penghantar penyalur harus paling tidak menggunakan 2 buah
klem, penyambungan di dalam tanah harus dengan dengan 2 sekrup dengan
diameter minimum 8 mm.
Penyambungan antara penghantar pembumian yang menghubungkan sistem
pembumian dengan penghantar sambungan ukur, harus mudah dibuka kembali,
untuk tujuan pengukuran tahanan pembumian.

XI.3.4. Komponen logam dekat Instalasi Penangkal Petir

Komponen – komponen logam agar dijauhkan dari instalasi penangkal petir, bila
tidak akan menimbulkan bahaya flash over, bila ada manusia diantara benda
tersebut dan dapat menimbulkan kebakaran jika terdapat bahan yang mudah
terbakar. Masalah ini dapat dihindari dengan menjauhkan benda tersebut dengan
instalasi penangkal petir atau cara lain adalah dengan menghubungkan benda
logam tersebut.
Jarak minimum benda logam terhadap instalasi penangkal petir adalah :

D > 1/20 L ——–> dimana : D = jarak logam dengan instalasi petir
L = panjang penghantar.

XI.3.5. Sistem Pembumian / Pentanahan / Grounding

Suatu sistem dengan elektroda pembumian dari logam yang ditanam di dalam
tanah yang berfungsi untuk menyebarkan arus petir ke dalam tanah.
Elektroda pembumian dari tembaga berupa silinder pejal diameter 1/2 ” atau dari
baja galvanis silinder pejal diameter 1/2 “.

METODE PELAKSANAAN

1. Batang penangkap petir ( speed ) harus dipasang kokoh pada batang penyangga
secara vertikal terhadap rata air.
2. Batang penangkap petir dipasang pada titik tengah dari daerah yang dilindungi,
dan merupakan daerah yang paling tinggi atau lancip dari bangunan itu, seperti :
bubungan, jurai, cerobong asap.
3. Batang penyangga tinggi minimal 1 m dari pipa gip (tahan karat / cuaca) dan diklem
kuat dengan batang penangkap petir serta ditanam secara kokoh di kerpus atau
beton yang telah diberi angkur baut.
4. Pada batang penangkap petir dihubungkan dengan konduktor / penghantar dari
kabel tembaga (BC) diameter minimal 8 mm atau penampang 50 mm² serta di klem
secara kuat dan diklem ke bubungan setiap 25 cm ( 3 bh tiap 1 meter).
Klem dapat dibuat dari plat strip dan diberi skrup atau mur baut.
5. Konduktor/penghantar menjalar pada bubungan , bila ada belokan sudut belokan
nya harus lebih besar dari 90°.
6. Sambungan sebaiknya dihindari, tetapi bila ada sambungan harus menggunakan
klem minimal 2 buah.
7. Konduktor yang menjalar tegak di dinding harus dilindungi dengan pipa PVC dan di
klem ke dinding.
8. Kawat konduktor / penghantar yang dihubungkan dengan elektroda pentanahan
diberi pelindung dari pipa gip sepanjang penghantar tersebut di dalam tanah.
9. Penyambungan kawat konduktor dengan elektroda harus dapat dibuka kembali
untuk dapat dites kembali tahanan tanah.
10. Ketahanan tanah minimal yang diijinkan adalah 5 ohm.
11. Pada daerah elektroda yang ditanam (ditanah) sebaiknya diberi arang dan garam
untuk menjaga tahanan tanah atau untuk mengikat air tanah agar tidak cepat lari,
bila musim kemarau, serta dapat mempercepata penyebaran petir ke tanah.

 

BAB XII SUB-SUB KONTRAKTOR

XII.1. PENGERTIAN
Sub-sub Kontraktor merupakan partner di dalam mengerjakan suatu proyek. Untuk
itu diperlukan adanya kerja sama yang baik antara kita sebagai Main Kontraktor
dengan Sub Kontraktor yang akan mengerjakan sebagian pekerjaan di proyek.

XII.2. Cara Pemilihan Sub-Sub Kontraktor

Sebaiknya di dalam pemilihan Sub-Sub Kontraktor diadakan tender fight sehingga
dari Sub ada kompetitif yang positif baik harga maupun metode kerja yang effisien.

XII.3. Cara Kerja Sama yang Baik dengan Sub-Sub Kontraktor

1. Sebelum pekerjaan dimulai harus dibuat Surat-Surat Kerja Sama yang isinya :
– Lingkup pekerjaan yang akan dikerjakan oleh sub kontraktor
– Nilai Pekerjaan
– Spesifikasi
– Dan pasal-pasal lain yang perlu dicantumkan.
2. Kesanggupan menempatkan seorang pelaksana yang selalu berada dilapangan dan
diberi wewenang oleh Sub Kontraktor yang bersangkutan sehingga memudahkan
komunikasi antara Sub Kontraktor dengan Main Kontraktor.
3. Supaya membuat Time Schedule penyelesaian Proyek, disesuaikan dengan Time
Schedule Main Kontraktor.
4. Jadwal Pendatangan Material
5. Jadwal pendatangan Man Power
6. Segera menyelesaikan Opname pekerjaan, sebelum pekerjaan berakhir.
7. Sub Kontraktor diwajibkan membuat gambar perencanaan dan gambar kerja saat
pelaksanaan, serta As Built Drawing ( 1kalkir, 2 lightdrugk ).
8. Sub kontraktor harus membuat metode pekerjaan sebelum memulai pekerjaan
9. Dibuatkan contoh material dan mock-up dan brosur.
10. Memberikan kartu garansi/jaminan serta buku manual operating.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s